Titik Balik Perubahan Hidup Manusia

Doc : warungarsip.co

Judul : Tuhan Izinkan Aku Menjadi Seorang Pelacur (Memoar Luka Seorang Muslimah)

Penulis : Muhidin M. Dahlan

Tahun Terbit : 2016

Penerbit : ScriPtaManent

Tebal : 269 halaman

ISBN : 979-99461-1-5

Peresensi : Aji Yoga Anindita

Semua manusia memiliki satu titik balik yang menyebabkan perubahan dalam hidupnya. Novel karya Muhidin M. Dahlan ini, berjudul “Tuhan Izinkan Aku Menjadi Seorang Pelacur”, bercerita tentang kisah titik balik perubahan seorang manusia dalam hal paling fundamental bagi kebudayaan orang-orang timur, yakni agama.

Novel yang ditulisnya ini merupakan kisah nyata dari teman penulis sendiri. Sebagaimana pengakuan sang penulis pada bagian “Pendahuluan” dan diperjelas pada “Surat untuk Pembaca”, dikatakan bahwa buku ini merupakan karya fiksi yang diambil dari kisah nyata dan data-datanya didapatkan melalui wawancara mendalam. Hasil daripada wawancara tersebut kemudian diolah sedemikian rupa oleh sang penulis hingga menjadi sebuah novel.

Novel ini bercerita tentang seorang mahasiswi muslimah bernama Nidah Kirani yang sedang menempuh pendidikan di salah satu universitas negeri di Yogyakarta. Lewat kawan satu pesantrennya di Pondok Ki Ageng, Nidah Kirani mulai mengikuti sebuah pengajian di masjid Tarbiyah yang membahas soal-soal keislaman. Dari sinilah asal mula Nidah Kirani mulai mempelajari Islam secara totalitas sampai kemudian memutuskan untuk ikut dalam jamaah (organisasi) yang memiliki tujuan untuk menegakan Dauhal Islamiyah di Indonesia.

Ditengah prosesnya menjadi muslimah yang kaffah (total), Kiran diterpa badai kekecewaan oleh organisasi yang diikutinya. Ternyata, semangat untuk beribadah, berdakwah dan berjihad para anggota jamaah tidak seperti yang diharapkan bak semangat juang kaum muslimin di Timur Tengah. Maka, ia menggugat dan menuntut banyak hal terkait kegiatan-kegiatan jamaah. Tetapi, nalar kritisnya dirampas dan dibalas dengan dogma-dogma tertutup yang semakin membuat Kiran resah. Keresahan itu terus memuncak setelah melewati berbagai kejadian-kejadian pelik yang Kiran alami dalam proses berdakwah, sehingga akhirnya memutuskan untuk keluar (kabur) dari jamaah.

Setelah kabur dari jamaah, Nidah Kirana mengalami pergolakan pikiran yang begitu menyiksanya. Hal tersebut membuat hidup Kiran terasa semakin hampa dan kosong. Ia Frustasi dan dalam kondisi kritis inilah ia masuk dalam dunia hitam. Kiran melampiaskan frustasinya dengan seks bebas dan obat-obatan terlarang ditengah amukan perasaan kecewa terhadap organisasi, agama dan tuhannya. Semua itu dilakukannya untuk memberontak Tuhannya, karena ia menganggap bahwa Tuhan menyia-nyiakan hidupnya, perjuangannya, dan kesungguhannya dalam membela ajaran-ajaran-Nya.

Secara keseluruhan buku ini mengambarkan bagaimana proses psikologis yang sangat kompleks terjadi pada seseorang dalam perubahan keberagamannya. Hal menarik dalam novel ini yaitu, bagaimana Muhidin M. Dahlan menulis novel ini sebagai satire terhadap organisasi Islam tertentu di Indonesia yang bakalangan ini sedang tumbuh subur terutama di universitas-universitas besar dengan sasaran utamanya adalah mahasiswa dengan latar belakangan keislaman yang dangkal. Buku ini jelas sangat realis sebab diangkat dari kisah nyata meski terdapat beberapa setting latar yang disamarkan seperti nama Universitas, nama Organisasi, dan lain-lain.

Kisah di dalam novel ini secara keseluruhan sangat menarik,  walaupun ada sedikit hal yang Presensi kritisi terhadap isi dan gaya ceritanya, di antaranya, metafora yang dipaksakan dan gaya bercerita terkesan menggurui dan mendakwa. Walaupun isi dari cerita tersebut dapat dibilang kontroversial dan penuh dengan arah debateble, namun secara substantif, karya tersebut sangat layak untuk dikonsumsi dengan catatan pendampingan untuk kaum-kaum awam dan kebijaksanaan bagi kaum-kaum konservatif. Presensi menikmati cerita tersebut dan dapat membuka mata Presensi, bahwa realita kehidupan begitu keras dan titik balik perubahan manusia dapat terjadi dengan faktor apa saja, walaupun berbalik arah dengan kehidupan atau lingkungan yang menaunginya.

Selamat Membaca!

PMII Walisongo

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Next Post

Sekolah Kepenulisan 2020

Ming Okt 4 , 2020
Salah satu cara mengikat dan merangkai ilmu adalah dengan menulis, karena menulis merupakan tradisi mengikat ilmu dengan pena. Menulis sendiri merupakan bagian dari jurnalistik. Secara konseptual, jurnalistik dapat dipahami dari tiga sudut pandang; sebagai proses, teknik, dan ilmu. Sebagai proses, jurnalistik adalah aktivitas mencari, mengolah, menulis, dan menyebarluaskan informasi kepada […]