Tantangan Mahasiswa Dalam Kacamata Pergerakan di Era Society 5.0

https://osc.medcom.id/

Oleh : Efa Nur Kholisoh ( Kader PMII Rayon Ekonomi )

Generasi milenial, generasi yang lahir mulai tahun 1980-1990-an atau 2000-an dengan karakter pribadi yang kreatif, memiliki ide dan gagasan yang cemerlang, terbiasa berpikir out of the box, percaya diri, pandai bersosialisasi serta berani menyampaikan pendapat di depan publik melalui media sosial. Hal itu menjadi kelebihan yang dimiliki oleh generasai milenial untuk menjawab tantangan di era society 5.0.

Society 5.0 dapat diartikan sebagai suatu konsep masyarakat yang berpusat pada manusia yang berbasis teknologi. Perkembangan teknologi yang begitu pesat, membuat peran manusia akan tergantikan oleh kehadiran robot cerdas.  Menurut Kantor Kabinet Jepang, Society 5.0 didefinisikan sebagai sebuah masyarakat yang berpusat pada manusia yang menyeimbangkan kemajuan ekonomi dengan penyelesaian masalah sosial melalui sistem yang mengintegrasikan ruang maya dan ruang fisik 4.0.

Kajian terhadap Revolusi Industri 4.0 yang dinilai berpotensi dalam mendegradasi peran manusia membuat jepang melahirkan konsep yaitu society 5.0 diharapkan membuat kecerdasan buatan yang akan mentransformasikan big data yang dikumpulkan melalui internet pada segala bidang kehidupan yang menjadi suatu kearifan yang baru. dengan harapan untuk meningkatkan kemampuan manusia dalam membuka peluang-peluang bagi manusia.

Generasi milenial perlu diberikan pemahaman tentang society 5.0 sebagai bekal untuk menghadapi tantangan kehidupan di era Society 5.0. Mahasiswa mempunyai peran penting sebagai generasi milenial dalam mengamalkan Tri Dharma Perguruan tinggi, yaitu sebagai pendidik dan pengajar, Penelitian dan pengembangan serta pengabdian masyarakat. Mahasiswa harus kembali ke jati dirinya yang mampu menjadi Agent of Change, Agen Of Analisys dan Agen Of Control supaya bisa mewujudkan cita-sita bangsa dalam memajukan kesejahteraan umum dan mencerdaskan kehidupan bangsa.

PMII (Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia) merupakan organisasi ekstra kampus yang didalamnya menaungi para mahasiswa sebagai kadernya. Sebagai kader PMII tidak hanya berbicara tentang aswaja atau Nilai Dasar Pergerakan (NDP), kader PMII harus kritis dalam menghadapi berbagai persoalan di era modern dan bisa memberikan gagasan inovatif di era society 5.0.

Kader PMII telah diajarkan untuk memahami kondisi sekitar dengan berlandaskan Ahlussunnah Wal Jamaáh (Aswaja) dan Nilai Dasar Pegerakan (NDP) dalam menghadapi persoalan-persoalan modern. Pada era yang serba instan tampak berbagai persoalan seperti, maraknya praktik politisasi agama, penyalahgunaan dakwah, eksploitasi umat, hingga banyaknya hate speech, hoax dan fitnah yang kini membanjiri wajah keberagamaan bangsa.

Menghadapi era seperti ini sudah saatnya generasi milenial terutama kader PMII turut andil dalam menyebarkan konten positif. Setiap bangsa sangat mengharapkan hadirnya generasi milenial yang berkualitas dan berkeseimbangan, baik secara aspek agama (aqidah, syariah dan akhlak), aspek Pendidikan dan keterampilan, aspek keberadaban (budaya, nilai dan tekhnologi), aspek kesejahteraan (ekonomi dan non ekonomi) serta aspek sosial (kemasyarakatan dan kebangsaan).

Melihat hal itu tentunya kader PMII perlu dibekali dengan keilmuan dan keterampilan berbasis teknologi serta menyiapkan lingkungan, tradisi dan budaya hidup yang mampu mendorong lahirnya pribadi muslim yang berkarakter, berintegritas, istiqamah, profesional dan inovatif sesuai dengan ajaran Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia yang dicita citakan oleh pendahulu.

PMII Walisongo

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Next Post

“Namanya Juga Laki-laki, Wajarlah Kalau Nggak Bisa Menahan Sange.”

Sen Agu 22 , 2022
Oleh : Minwarul Fuad Bicara tentang kesetaraan gender memang terkadang melelahkan dan tak ada habisnya. Tetapi, sudah menjadi tanggungjawab kita semua untuk terus menyalakan api perlawanan. Aku mengerti, bahwa memberitahu kawan laki-laki mengenai isu ini memang tidak mudah. Sebagian besar laki-laki enggan membicarakan isu kesetaraan gender, karena bagi mereka isu […]