Sudut Pandang Orang tentang Uang

Oleh: M Shodiq Al-Hakim (Pengurus LPW PMII Komisariat UIN Walisongo)

Dalam kehidupan kita sehari-hari sebagai manusia. Ada satu kata benda yang selalu menemani kita dimanapun berada. Semua orang pasti mengenal yaitu uang. Uang menjadi alat transaksi tukar menukar barang ataupun jasa. Di dunia ini setiap orang pasti memiliki ketergantungan terhadap uang untuk mendapat sesuatu yang mereka inginkan. Dewasa ini setiap orang akan berusaha untuk mencari uang demi mencukupi kebutuhan hidupnya atau bahkan memenuhi segala keinginannya. Bisa dikatakan oleh setiap orang bahwa segala yang ada di dunia ini membutuhkan uang. Namun hal ini tidak terlepas dari mindset setiap individu.

Apa itu mindset? Mindset adalah pola pikir. Bisa dikatakan bahwa setiap orang memiliki mindset yang berbeda terhadap berbagai hal dan salah satu yang kita bicarakan saat ini yaitu uang. Setiap orang yang memegang uang entah itu didapat dari cara apapun atau jalan apapun pasti akan dikelola oleh mereka. Bahkan ada sebagian orang di dunia ini yang memiliki cara aneh dalam menanggapi soal uang. Dalam mengelola keuangan, setiap orang akan melakukannya dengan cara yang berbeda-beda.

Sebagian orang menganggap bahwa mereka akan merdeka secara finansial bilamana mereka tidak terjerat hutang dan mampu memenuhi kebutuhan hidup mereka. Ada yang beranggapan merdeka secara finansial itu ketika seseorang mendapatkan passive income yaitu pendapatan yang didapat tanpa melakukan kerja keras seperti halnya investasi. Ada juga yang menganggap bahwa uang menjadi simbol kekayaan mereka sehingga uang yang dipegang akan digunakan untuk membeli barang-barang mewah. Dapat dikatakan bahwa mereka akan terlihat kaya apabila bisa membeli barang mewah yang bahkan sebenarnya itu tidak diperlukan oleh mereka.

            Sebenarnya di dalam kehidupan ini kita bisa melihat bahwa kekayaan bukan hanya soal berapa banyak barang mewah yang dimiliki oleh seseorang. Bukan hanya mengenai seberapa mahal barang yang mereka beli. Namun seberapa kuat kemampuan kita dalam mengelola keuangan dengan baik sehingga kebutuhan kita terpenuhi bukan hanya keinginan yang berdasarkan dari hasrat dan gengsi semata. Sehingga ketika melihat sudut pandang seseorang terhadap uang maka bisa dilihat dari perilakunya. Karena sudut pandang seseorang terhadap uang itu yang menentukan bagaimana memperlakukan uang itu.

Menurut buku Psychologi of Money karya Morgan Housel disebutkan bahwa ada beberapa hal penting tentang bagaimana hubungan manusia dengan uang dari sudut pandang perilaku manusia. Mungkin saya akan menyebutkan tiga hal penting dari buku ini. Yang pertama, mengelola uang tidak harus pintar. Orang jenius yang  kehilangan ketenangan dalam mengatur keuangan mereka, maka akan berakibat fatal. Hal sebaliknya, orang biasa yang tidak punya latar belakang keuangan bisa menjadi kaya apabila dia punya karakter perilaku tertentu soal uang, ini tidak ada kaitannya dengan kepintaran.

Ada contoh yang menarik, Ronald James Read adalah seorang petugas kebersihan pom bensin dan donatur di AS. Dia hidup sederhana, rutin menabung dan pada akhir hayatnya dia mampu mengumpulkan 8 juta dolar. Mayoritas dari kekayaannya lalu disumbangkan ke rumah sakit lokal dan perpustakaan.

Kisah kedua dari seorang bernama Richard Fuscone. Dia lulusan Harvard dan eksekutif di perusahaan manajemen investasi bernama Merrill Lynch. Sepanjang hidupnya, dia banyak berhutang dan hidup sangat boros. Hingga akhirnya, nasib malang tiba ketika krisis keuangan 2008. Kejadian ini memaksanya untuk menyatakan diri bangkrut.

Perbedaan nasib kedua orang ini bukan disebabkan oleh tingkat intelektual seseorang, tapi berdasarkan bagaimana perilaku mereka soal uang. Ronald hidup sederhana dan mengatur uangnya dengan baik, sedangkan Richard hidup dengan serakah dan boros. Kesuksesan keuangan bukanlah ilmu yang kaku, tapi lebih ke soft skill di mana perilaku kamu soal uang lebih penting daripada seberapa banyak yang kamu tahu soal uang.

Kedua, fakta unik soal uang. Ada cerita menarik dari dua orang penulis, Kurt Vonnegut dan Joseph Heller yang berada di sebuah pesta seorang miliarder. Kurt bilang ke Joseph, kalau penghasilan miliarder itu dalam sehari lebih besar daripada seluruh pendapatan Joseph dari novel paling populernya. Joseph menjawab, betul, tapi dia punya sesuatu yang tidak mungkin dimiliki miliarder itu yaitu rasa cukup. Kita memiliki kebiasaan untuk membandingkan diri kita dengan orang lain. Ini adalah proses yang tiada akhir dan akan selalu ada orang yang di atas kita. Ibaratnya di atas langit masih ada langit. Yang paling penting, kita harus tahu rasanya cukup. Hal ini berarti kita menghindari perbuatan yang pada akhirnya membuat kita menyesal.

Contohnya seperti kisah Bernie Madoff, dia terpidana kasus ponzi terbesar dalam sejarah. Penipuannya berlangsung selama 17 tahun dan melibatkan ribuan investor dengan nilai investasi mencapai miliaran dolar. Ini adalah contoh kasus di mana seseorang tidak tahu rasanya cukup. Mereka membawa diri mereka sendiri ke dalam jurang celaka karena mereka serakah dan tidak tahu saatnya harus berhenti. Perlu kita pahami, banyak hal di dunia tidak sepadan dengan resikonya, misalnya dalam mengejar kekayaan, kita justru punya resiko kehilangan reputasi, kebebasan, teman, keluarga dan sebagainya.

Fakta unik lainnya yaitu kekayaan adalah sesuatu yang kamu tidak lihat. Contohnya begini, ketika ada seseorang mengendarai sebuah mobil seharga Rp1 miliar, mungkin saja orang itu kaya raya. Tapi, fakta yang kamu tahu soal kekayaan dia adalah kalau dia sudah menghabiskan 1 miliar untuk membeli sebuah mobil. Morgan mengingatkan kita kalau sebenarnya ketika orang ingin bilang jadi miliarder, yang sebenarnya dimaksud adalah mereka ingin menghabiskan uang miliaran, sederhananya mereka ingin gaya hidupnya yang glamor. Namun logika ini bertentangan dengan menjadi miliarder.

Ketiga, mempertahankan kekayaan tidak sama dengan membangun kekayaan. Ada banyak cara memperoleh kekayaan. Tapi, menurut Morgan hanya satu cara untuk tetap kaya yaitu gabungan antara hidup sederhana dan punya rasa takut. Memperoleh kekayaan dan mempertahankan kekayaaan punya pendekatan yang berbeda. Dalam memperoleh kekayaan, kamu perlu mengambil resiko dan optimis. Sedangkan dalam mempertahankan kekayaan kamu butuh mindset yang 180 derajat bertentangan yaitu harus hidup lebih sederhana dan rasa takut kalau apa yang kita kumpulkan selama bertahun-tahun bisa hilang dalam sekejap. Itulah sebabnya kita harus memiliki survival mindset dalam mempertahankan kekayaan.

Utamanya adalah kondisi keuangan yang kokoh. Kita harus punya manajemen uang yang baik, misalnya berapa bagian untuk investasi konsevatif dan berapa bagian untuk investasi yang agresif. Pembagian ini harus jelas dan diamati dengan baik. Hal ini bertujuan agar kita mampu menikmati kondisi keuangan yang baik dalam jangka panjang. Kamu bisa membangun kekayaan tanpa pendapatan yang besar. Tapi kamu tidak bisa membangun kekayaan tanpa mindset yang benar soal uang. Perilaku kamu soal uang, lebih penting daripada seberapa banyak informasi yang kamu tahu soal mengelola keuangan.

PMII Walisongo

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Next Post

Tantangan Mahasiswa Dalam Kacamata Pergerakan di Era Society 5.0

Sen Agu 22 , 2022
Oleh : Efa Nur Kholisoh ( Kader PMII Rayon Ekonomi ) Generasi milenial, generasi yang lahir mulai tahun 1980-1990-an atau 2000-an dengan karakter pribadi yang kreatif, memiliki ide dan gagasan yang cemerlang, terbiasa berpikir out of the box, percaya diri, pandai bersosialisasi serta berani menyampaikan pendapat di depan publik melalui […]