Rihlah Kyai Abbas Buntet Sang Panglima Multidisiplin Keilmuan (Kajian Historis Nusantara Era Moderat)

Oleh: Mochamad Najwa Rizqi Maulana

Kiprah tanah sunda dalam perjuangan kemerdekaan indonesia tergolong besar, dengan banyaknya santri dari tanah sunda (Fokky Fuad Wasitaatmadja, 2019), Aura positif kota Cirebon memancar dari salah satu jantung keislaman Cirebon yang terkenal dengan kesaktian para santrinya yaitu tanah buntet. Cikal bakal berdirinya pesantren yang masyhur di kalangan warga nusantara ini berawal dari penjajah belanda yang ikut campur dalam pemerintahan kesultanan Cirebon pada masanya yang menyebabkan perpecahan menjadi empat kesultanan Cirebon (Noor Ahmad dkk, 2011).

            Campur tangan belanda dalam permasalahan religi membuat resah para ulama, sikap ulama yang dinilai tidak kooperatif terhadap kebijakan belanda menyebabkan penindasan besar-besaran terhadap gen ulama. Melihat hal ini Kyai Muqayyim salah satu wali yang terkenal di masyarakat sunda saat itu memutuskan untuk melakukan pengembaraan guna mendakwahkan syiar islam kepada masyarakat luas (Inggar Saputra, 2019), (Rosad Amijaja dkk, 1985).

            Sebelum memutuskan untuk membangun pilar pesantren, beliau membangun surau sebagai tempat sholat sekaligus sarana mengaji masyarakat sekitar, pengajaran tradisional yang khas menarik perhatian masyarakat bahkan hingga dari luar daerah tersebut untuk menimba ilmu religi (Ahmad Royani, 2018). Karena banyaknya masyarakat yang datang akhirnya beliau memutuskan untuk membangun posndok-pondok kecil sebagai tempat beristirahat para santri (Rusdi Sufi. Muhammad Nasir. Zulfan., 1997).

Sang Macan Cirebon

            Siapa “Macan dari Cirebon’? Sosok yang dimaksud adalah Muhammad Abbas bin Abdul Jamil seorang Kyai karismatik, dari Buntet Pesantren Cirebon. Beliau adalah pendiri sekaligus pengurus pesantren yang berdiri sejak abad 17 M itu. Kiai Abbas adalah ulama yang tidak hanya dikenal dengan keluasan pengetahuan agamanya, tetapi juga dikenal memiliki ilmu kanuragan/bela diri tingkat tinggi dan ilmu supranatural yang mumpuni (Najib Jauhari, 2013). Beliau juga terlibat dalam penyusunan Resolusi Jihad. Sesampainya Kyai Abbas di Surabaya, beliau memerintahkan para laskar dan pemuda-pemuda yang akan berjuang melawan penjajah untuk mengambil air wudu dan meminum air yang telah diberi doa. Setelah itu, para pemuda dan rakyat tanpa mengenal takut langsung menyerang tentara Belanda dengan hanya bersenjatakan bambu runcing, dan parang (Abdul Mufti, Abdul Munir, 2015).

            Melihat keberanian pemuda Indonesia, para tentara Belanda menghamburkan pelurunya ke segala arah. Korban dari kalangan pemuda sangat banyak sekali. Namun tidak sedikit juga serdadu Belanda yang tewas di ujung bambu runcing. Dalam pertempuran itu (Amin Farih, 2016), Kyai Abbas dan para kiai lainnya berada di tempat yang agak tinggi, hingga bisa memantau jalannya pertempuran. Dengan menggunakan sandal bakiak, (Abdul Chalik, 2011).

            Kyai Abbas berdiri tegak di halaman masjid sambil berdoa.  Beliau menengadahkan kedua tangannya ke langit, dan keajaiban terjadi (Endra Kusuma dkk, 2021). Beberapa pesawat sekutu berturut-turut datang lagi dengan maksud menjatuhkan bom-bom untuk menghancurkan Kota Surabaya. Tetapi sekali lagi, pesawat-pesawat itu mengalami nasib yang sama, meledak di udara sebelum beraksi. Sejak saat itupun nama Kyai Abbas kian terkenal diberbagai kalangan seperti petinggi negara hingga rakyat jelata mengakui akan keilmuan beliau (A Roudlimakmun, 2014).

Safari Ilmu Kyai Abbas 

            Kyai Abbas merupakan seorang santri kelana. Dalam tradisi pesantren, santri kelana ini dikenal sejak lama. Untuk memperdalam keilmuan dan wawasan keagamannya, seorang santri berpindah dari satu pesantren ke pesantren lainnya sesuai dengan fokus ilmu yang dimiliki seorang kyai, Setelah dirasa cukup dengan dasar-dasar agama yang didapatkan dari ayahnya KH.Abdul Jamil, Abbas muda kemudian pindah belajar kepada Kyai Nasuha, Sukansari Plered Cirebon, lalu pindah ke sebuah pesantren salaf di Jatisari yang diasuh oleh Kyai Hasan. Kemudian, untuk memperdalam ilmu tauhid, Ia belajar di pondok pesantren Giren Tegal, Jawa Tengah dibawah bimbingan Kyai Ubaidillah (Murniati, 2015).

            Pengembaraan ilmu Abbas muda singgah di Tanah Jawa pada sebuah pesantren yang mulai kondang saat itu yakni Pesantren Tebuireng Jombang, Jawa Timur. Beliau merupakan angkatan pertama santri Tebuireng bersama KH.Wahab Hasbullah dan KH. Abdullah Manaf. Bersama keduanya, KH. Abbas turut serta mendirikan Pesantren Lirboyo, Kediri Jawa Timur (M Hadi Purnomo, 2017) (Jihan Amaliya Hasanah, 2017).

            Jejak ini nampaknya menginspirasi Kyai Abbas. Setelah dari Tebuireng, beliau melanjutkan perjalanan ilmiah dan spritualnya dengan berangkat ke tanah suci Makkah sekaligus untuk menunaikan ibadah haji. Disana, ia berguru kepada ulama Nusantara yang sangat terkenal saat itu, yakni Syekh Machfudz al-Turmusi, putra dari Kyai Abdullah pengasuh pesantren Termas, Pacitan. Syekh Machfudz al-Turmusi dikenal kedalaman pengetahuannya, terutama dalam ilmu hadist.

            Di Makkah, Ia bertemu kembali dengan KH. Wahab Hasbullah yang ternyata sama-sama berguru kepada Syekh Mahfud. Karena dipandang cakap dan cerdas, di Makkah KH. Abbas ditugaskan oleh gurunya untuk mengajar ilmu agama terutama ilmu Fiqh. Diantara santrinya dari Indonesia adalah Kiai Cholil Balerante dan Kiai sulaeman Babakan Ciwaringin (Barsihannor, 2014) (Tim Ahli Cagar Budaya, 2018) .

Kyai Abbas Moral Values

            Sikap teladan yang beliau ajarkan merupakan tingkah laku dan aktivitas yang selalu beliau praktikkan dalam kehidupan sehari-harinya. Pertama, zuhud dan sederhana. Kyai Abbas juga merupakan sosok kiai yang teguh dalam memegang prinsip, ikhlas dalam beramal dan berjuang. Selain sikap teladan beliau yang sangat mengesankan, kita juga harus mengambil sisi positif dari perjalanan beliau selama nyantri di berbagai wilayah Jawa hingga jazirah Arab. Penguasaannya dalam berbagai bidang ilmu patut dijadikan suritauladan terlebih bagi kaum milenial.

            Hal ini akan membantu kita yang sering kali mengalami problem karena terlalu berpacu oleh waktu, suka menunda pekerjaan, dan hilang kendali akan kemauan yang seharusnya kita kembangkan. Ketika seorang Kyai Abbas bisa menguasai berbagai ilmu sekaligus mengambil sisi positifnya, maka  yang bisa kita contoh adalah sikap konsistennya dalam mempelajari berbagai cabang ilmu pengetahuan.

            Karena bila kita lihat pada realitasnya  pembelajar masa kini masih sulit menguasai satu bidang ilmu, lalu bagaimana nasib ketika semua ilmu kita kuasai. Tidak menutup kemungkinan, otak kita akan kesulitan memahami lebih dalam, hal ini bisa disebabkan oleh berbagai alasan seperti rasa malas hingga rendahnya daya ingat. Satu-satunya modal yang harus kita pegang erat adalah niat dan juga semangat.

            Semangat belajar kita dan sikap pantang menyerah merupakan salah satu faktor yang memicu tercapainya sebuah kesuksesan. Selain itu, mencari ilmu harus dilakukan dengan  ketekunan dan keistiqomahan.

            Sukses tidak bisa diraih oleh orang yang malas dalam berproses, karena dalam setiap proses akan memberikan pengalaman yang berharga. Dalam setiap proses kita akan dituntut  untuk sabar. Hal ini karena kesabaran adalah salah satu point penting yang diajarkan oleh kyai abbas, beliau berpesan “Seorang yang sedang menuntut ilmu itu pasti mengalami berbagai macam ujian dan cobaan, hal itu turun dari Allah SWT guna menguji kekuatan hambanya”.

            Banyak yang sering meremehkan tentang progres dan hanya memikirkan hasil akhirnya saja. Namun ketika kita melihat ke belakang dari kisah perjalanan Kyai Abbas kita akan tahu bahwa kunci kesuksesan yang beliau pegang adalah kemauan dan semangat yang membara. Dan itulah yang perlu diikuti oleh para generasi muda untuk menyikapi problem-problem yang kian kompleks saat ini.

PMII Walisongo

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Next Post

AKANKAH MANUSIA TETAP ACUH TERHADAP EKOLOGI HINGGA DETIK INI ?

Kam Agu 25 , 2022
Oleh : Vika ‘Aunur R Indonesia merupakan negara dengan kekayaan alam yang sangat melimpah. Memiliki segudang sumber daya alam hayati, seperti daratan, perairan, mineral, non-mineral, flora, fauna, perikanan, perkebunan, air, udara, matahari. Sumber daya inilah yang memiliki peran penting dalam keberlangsungan hidup manusia sehari-harinya. Kualitas lingkungan hidup ditentukan oleh apa […]