Potret Usang tentang Kita

Oleh: Fera Rahmawati

Kau tau, ternyata sebuah kata bernama rindu bisa mengubah kita menjadi pribadi yang berbanding terbalik. ya, contohnya aku.

Dengar!  Biasanya aku akan bersikap masa bodoh, tapi sekarang aku mendapati pantulan diriku tengah merengut, kadang juga mencibir dari balik meja kaca. Kedua sikuku berusaha menopang kepalaku yang sudah terasa berat, terbebani oleh rindu.

Seorang pelayan menanyakan pesanan, mungkin bosan karna memandangiku yang hannya terdiam lesu. “Apapun selain rindu” jawabku dengan wajah muram. ia hanya membalas dengan anggukan, lalu merangkak pergi. Dan beberapa kedip mata kemudian, seseorang mengantarkan pesanan. Tidak, dia bukan pelayan yang tadi. Mungkin pelayan tadi sedang menenggelamkan dirinya dalam kata-kataku yang terkesan dalam.

“Sudah lama nggak kemari mbak. Masnya juga” ujar Mang Imad, pelayan yang tadi mengantar pesananku.

“Hihi lagi sibuk, Mang” jawabku sambil tersenyum tipis, untuk sedikit menyamarkan wajah muramku.  Mang imad adalah salah satu pelayan kafe ini yang sangat akrab denganku.

“Masnya nanti nyusul?” Aku hanya mengannguk dan menggigit bibirku.

Masnya…. Tentu itu bukan abangku, yang ia tanyakan. Namun, tentang sosok laki-laki dengan siapa aku kerap berbagi cerita ditempat ini.

Ditemani secangkir kopi  dan beberapa cemilan. Sosok yang selama hampir dua tahun terakhir telah lenyap dari keseharianku, namun tetap melekat dalam benak. Sosok laki-laki yang mampu menumbuhkan rindu hingga beberapa kali merubah moodku.

Alsevan namanya. Laki-laki dengan perawakan tinggi, berhidung mancung, berambut ikal dengan mata hazel dan kacamata yang menjadi ciri khasnya. Dulu, sepasang mata hazel itulah yang kerap memberikan tatapan keteduhan ketika aku sedang bersungut-sungut meluapkan emosiku. Yah, entah itu karena tugas kuliahku atau bahkan karna hal-hal yang sepele.

Hingga pada suatu malam, tepat setelah ia menurunkanku di depan rumah, baru selangkah aku mau membuka gerbang, pesan itu muncul. Pesan darinya, kupikir ini lucu, dia tepat berada di mobil belakangku, tapi mengirimiku pesan. Aku berbalik menatapnya sambil tertawa, ia membuka kaca jendela, tapi tidak terlihat bahagia, wajahnya sendu, hanya seutas senyum tipis di wajahnya.

Dan pada akhirnya, kubuka pesan itu dan yang kulihat adalah:

Maafkan aku, kita akhiri saja semua ini ya. Maafkan aku, aku harus pergi.” Apa kau tahu? Duniaku rasanya hancur saat itu juga, aku menatapmu tak percaya, dan kau hanya tersenyum lalu berbicara dengan suara paling sendu, “Selamat tinggal, Cantik, jaga diri baik-baik ya, aku sayang padamu. Dan kau menutup kaca mobilmu, lalu mobil itu melaju meninggalkanku, berdiri kaku didepan gerbang, air mataku mengalir perlahan, badanku kaku, aku diam tidak merespon, bahkan aku tidak mengerti, tapi kau pergi begitu saja.

Aku sempat membencimu, membenci kenapa kamu pergi meninggalkanku begitu saja, pergi meninggalkan tanpa mengerti perasaanku, pergi meninggalkan tanpa mengerti bagaimana dampaknya padaku.

Sampai aku tahu, kau sedang berada jauh di belahan bumi lain, menuntut ilmu, tapi yang tidak bisa kumengerti kenapa kau tidak menjelaskan? Kenapa kau memilih pergi begitu saja? Kenapa kau memilih membuatku kebingungan? Kenapa kau memilih membuatku tersiksa dengan semua ini?

Mungkin aku marah, tapi akan kumaafkan dirimu. Mungkin aku kecewa, tapi akan kuberi kesempatan lagi untukmu. Karena sekuat apapun aku mengelak, namamu tetap menjadi satu-satunya yang terukir dengan indah di hatiku. Aku di sini masih menatap pesan kita yang lama, aku tidak tahu, apakah kamu juga melakukan yang sama, apakah kamu juga merindukan sosok ku? Apakah kamu juga masih suka membaca kembali pesan kita, mengingat kembali, cerita kita? Apakah kamu masih mengingat tawa candaku? Seperti aku mengingat tawa candamu, Atau kamu benar-benar pergi dan melupakan segalanya.

Miss you” Kalimat itu terlontar dari mulutku tanpa basa-basi, segera kukembalikan fokusku lalu bergegas meninggalkan kafe kenangan ini.

PMII Walisongo

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Next Post

Sudut Pandang Orang tentang Uang

Sab Agu 20 , 2022
Oleh: M Shodiq Al-Hakim (Pengurus LPW PMII Komisariat UIN Walisongo) Dalam kehidupan kita sehari-hari sebagai manusia. Ada satu kata benda yang selalu menemani kita dimanapun berada. Semua orang pasti mengenal yaitu uang. Uang menjadi alat transaksi tukar menukar barang ataupun jasa. Di dunia ini setiap orang pasti memiliki ketergantungan terhadap […]

Baca juga