“Namanya Juga Laki-laki, Wajarlah Kalau Nggak Bisa Menahan Sange.”

Oleh : Minwarul Fuad

Bicara tentang kesetaraan gender memang terkadang melelahkan dan tak ada habisnya. Tetapi, sudah menjadi tanggungjawab kita semua untuk terus menyalakan api perlawanan. Aku mengerti, bahwa memberitahu kawan laki-laki mengenai isu ini memang tidak mudah. Sebagian besar laki-laki enggan membicarakan isu kesetaraan gender, karena bagi mereka isu ini identik dengan perempuan dan bukan menjadi permasalahan mereka. Akhirnya isu ini dianggap tidak terlalu penting dan terlihat mengada-ada. Dibanding membicarakan hal tersebut, mereka cenderung lebih memilih topik lain yang tidak mengganggu kenyamanan mereka sebagai laki-laki.

Walau realitas begitu jelas di depan mata, pengalaman dari tubuh yang berbeda membuat mereka sulit untuk melihat dan memahami ketertindasan perempuan. Tak jarang perempuan yang sering berbicara tentang ketidakadilan gender hanya dipandang sebagai perempuan yang suka marah-marah, bahkan lebih parahnya lagi diberikan label “pembenci laki-laki”. Padahal, berbicara tentang ketidakadilan gender itu untuk membongkar ketimpangan, bukan alih-alih menyalahkan laki-laki. Kesetaraan gender bukanlah perang antar jenis kelamin, melainkan perang melawan ketidakadilan gender itu sendiri.

Gender sebagaimana fungsinya merupakan ketidakadilan. Gender mengatur bagaimana kita seharusnya, bukan mengakui bagaimana kita bahagia merasa bebas menjadi diri sendiri tanpa beban ekspektasi gender. Tidak ada yang salah dari lahir sebagai perempuan. Tidak ada yang salah dari lahir sebagai laki-laki. Tetapi dipaksa menjadi perempuan dan laki-laki yang ideal bagi masyarakat adalah sebuah kesalahan. Jadi kesetaraan gender bukan hanya permasalahan perempuan, tetapi permasalahan kita semua. Laki-laki yang mengadopsi nilai-nilai patriarki adalah bagian dari masalah. Perempuan yang turut melanggengkan budaya patriarki juga bagian dari masalah. Keduanya adalah bagian dari masalah, tetapi keduanya juga bagian dari solusi. Keterlibatan laki-laki dalam permasalahan gender akan mempercepat perjuangan dan pergerakan yang tidak mudah dan membutuhkan waktu yang panjang ini. Maka wacana kesetaraan gender sudah seharusnya disadari dan disuarakan oleh seluruh elemen masyarakat.

Paham gender juga membuat laki-laki tidak perlu mengamini konstruksi sosial tersebut dengan tidak mengikatkan dirinya dengan sifat maskulinitas patriarki. Laki-laki tak perlu merasa tertekan dengan segala tuntutan dan ekspektasi dari masyarakat patriarkal. Laki-laki boleh menangis, menunjukkan sisi kerentanannya, ataupun memiliki sifat feminin. Laki-laki tidak harus menjadi pemimpin, tidak perlu agresif apalagi mendominasi. Cukup satu hal yang diperlukan yaitu menjadi manusia yang memanusiakan manusia lainnya.

Kalian pasti sering banget kan mendengar pernyataan “Namanya juga laki-laki, wajarlah kalau nggak bisa menahan sange” keluar saat terjadi kasus kekerasan seksual? Seakan-akan melecehkan dan memperkosa adalah hal yang lumrah bagi para laki-laki. Memang sebenarnya apasih maskulinitas itu? Jadi, maskulinitas adalah atribut, peran, atau perilaku yang dikaitkan dengan laki-laki sebagai hasil dari konstruksi sosial dan budaya. Dalam masyarakat patriarkal, sedari kecil laki-laki diajarkan bahwa value tertinggi mereka adalah kemampuan untuk mendominasi, mengontrol, agresif, serta kompetitif dengan segala cara.

Budaya patriarki akan terus mempertahankan nilai-nilai maskulinitas untuk menopang superioritas dan dominasi mereka terhadap perempuan. Karena nilai-nilai ini sudah mengakar, akhirnya perempuan selalu diatur mulai dari bagaimana cara mereka berpakaian, bahkan sampai bagaimana cara mereka berperilaku dari sudut pandang maskulin. Perempuan seolah-olah tidak punya kehadiran, karena yang memberi makna adalah laki-laki.

Segala perspektif dipusatkan pada pandangan laki-laki. Maka tidak heran, mengapa rape culture dan budaya victim blaming terus tumbuh dengan subur. Maskulinitas patriarki mewajarkan laki-laki untuk menjadi pelaku. Pembiaraan kekerasan dianggap normal bahkan benar. Seperti kata Simon De Beauvior dalam bukunya yang berjudul The Second Sex, perempuan itu dianggap bukan subjek yang dapat menentukan kebebasan sendiri, tapi perempuan adalah “Liyan” (man’s other) yakni tidak esensial. Sedangkan laki-laki dinamai sang Diri. Jika liyan adalah ancaman bagi laki-laki, maka perempuan adalah ancaman bagi mereka. Maka jika ia ingin tetap bebas, ia harus mensubordinasi perempuan terhadap dirinya.

Di dalam tubuh perempuan segala ketidakadilan bermukim. Tubuh perempuan hanya dijadikan objek pelampiasan nafsu, kekecewaan, dan kekejian maskulinitas yang angkuh. Maka tidak heran saat terjadi kasus kekerasan seksual, perempuan menjadi pihak yang kerap disalahkan, dan terus disudutkan dengan berbagai macam pertanyaan. Seperti apakah ia memakai pakaian terbuka, atau bertindak menggoda dan merangsang si pelaku. Seolah-olah kekerasan seksual yang terjadi merupakan kesalahan yang dibuat oleh perempuan itu sendiri. Sistem patriarki akan terus memunculkan hierarki yang melahirkan dominasi terhadap perempuan bahkan antar sesama laki-laki (Hegemoni Maskulinitas).

Hegemoni Maskulinitas dapat menjadi beban dan ancaman bagi laki-laki, karena hegemoni maskulinitas melahirkan kelas social diantara mereka. Hegemoni maskulinitas akan memarginalisasi kelompok laki-laki tertentu yang tidak dapat memenuhi kriteria yang telah ditetapkan. Hegemoni maskulinitas memunculkan adanya persaingan antar laki-laki untuk meraih dominasi dan kekuasaan dengan berbagai cara bahkan melalui kekerasan. Laki-laki yang memiliki status sosial lebih tinggi akan mendapatkan kekuasaan dan memiliki kontrol terhadap orang lain, daripada laki-laki yang memiliki status sosial rendah. Jadi sudah jelas, patriarki tidak hanya merugikan perempuan tetapi laki-laki juga. Hegemoni maskulinitas berpotensi terhadap ketidaksetaraan. Maka kita perlu merekonstruksi maskulinitas itu sendiri, menjadi konsep maskulinitas yang egalitarian.

PMII Walisongo

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Next Post

Rihlah Kyai Abbas Buntet Sang Panglima Multidisiplin Keilmuan (Kajian Historis Nusantara Era Moderat)

Kam Agu 25 , 2022
Oleh: Mochamad Najwa Rizqi Maulana Kiprah tanah sunda dalam perjuangan kemerdekaan indonesia tergolong besar, dengan banyaknya santri dari tanah sunda (Fokky Fuad Wasitaatmadja, 2019), Aura positif kota Cirebon memancar dari salah satu jantung keislaman Cirebon yang terkenal dengan kesaktian para santrinya yaitu tanah buntet. Cikal bakal berdirinya pesantren yang masyhur […]