Nahdatu Turast: Semangat Baru di Rumah Tradisi

Dok. Google

Hitam dan putih, saya kira cukupuntuk menggambarkan kondisi wajah umat beragama di Indonesia dewasa ini. Ya, kondisi di mana tema-tema problematis sangat kencang mencuri perhatian banyak orang. Mereka yang tidak lagi saling peduli dengan khittah yang dibawa sejak lahir. Menghiasi diri dengan congkaknya ego kelompok yang menghegemoni lagi menegasi mayoritas-minoritas. 

Hitam dan Putih, kondisi di mana barang mati saja mempunyai agama. Ada jenis jilbab yang syar’i dan non syar’i , ada bank syari’ah dan ada yang konvesional, ada kebab syar’i dan ada juga kebab biasa. Begitu lancangnya manusia kini, mereduksi makna agama dengan  produk yang profan. Demi memperoleh laba yang melimpah, agama di-setting sebagai lebel yang wajib dibeli. Agar mendapat berkah, katanya.

Lebih jauh lagi, selain menjamah ranah konsumsi, komoditas tersebut pada akhirnya akan merusak paradigma dan pemikiran. Contohnya pun sudah meluber ke berbagai sosial media lagi berita. Di mana panggung dakwah dan kajian ilmu dipenuhi para politisi dan anak yang sedang pubertas akan ilmu pengetahuan. Padahal, tahapan belajar harus thuuli zamani bukan?. Alhasil keilmuan tak lagi bersifat untuk membebaskan, berbalik sebagai alat propaganda yang mengisyaratkan pengelabuan lagi pembodohan.

Bahaya-bahaya tersebut telah mendapat ancaman dalam Alquran. Dapat dicek dalam (QS. Al Baqarah : 41) yang secara umum menggambarkan bahwa Allah SWT melarang kepada manusia untuk menjual ayat-ayat al-quran dengan harga yang murah. Dalam artian menukarkan ayat-ayat al-quran demi mendapatkan keuntungan duniawi, baik berupa pangkat, bahkan harta yang fana. Sebuah fenomena yang tidak lagi asing dewasa ini. Ketika hendak menjabat, mulutnya dipenuhi dalil yang rimbun. Namun ketika memperoleh pangkat, hawa nafsunya yang menguasai ubun-ubun.

Hitam dan putih, di mana keilmuan diajak terus berlomba untuk lebih fresh dan baru. Marwah khazanah keilmuan Islam sengaja dikikis akarnya, diteriaki tokohnya sebagai kelompok eksklusif lagi kuno. Keilmuan dibebaskan untuk mencapai batas terliarnya. Kecepatan teknologi, banjir informasi, seksinya diksi nafas pembaharuan diberbagai kalangan akademisi, dan yang lainnya telah banyak kasus melewati garis moral yang semula ditentukan.

Ada sebuah pertanyaan yang sangat ingin saya ajukan dewasa ini. Mengapa dalam kalangan PTKIN sekalipun (kebetulan saya Fakultas Ushuluddin), kurikulum yang secara masif diterima baik dalam kelas maupun forum diskusi lainnya adalah khazanah keilmuan para orientalis?. Saya melihat banyak mahasiswa sangat dangkal bahkan buru-buru menyerah dengan khazanah Islam sendiri. Dan sebaliknya, akan sangat merasa enjoy lagi jumawa ketika argumennya menukil dari para sarjana barat tersebut.

Maka ketika melihat hal itu, dapat ditarik benang merah bahwa sejak dini khazanah keilmuan Islam sebenarnya menjadi kurang produktif setidaknya di sini diakibatkan dua hal. Yang pertama, akibat kurikulum pendidikan yang lebih banyak menukil keilmuan barat, yang notabene lebih banyak mendewakan akal lagi liberal. Yang kedua, akibat dari pembiasaan kurikulum tersebut, banyak siswa bahkan mahasiswa yang merasa susah payah lantas menyerah dalam upaya mengkaji khazanah keilmuan islam.

Salah satu wajahnya adalah seakan wajibnya madzhab hermeneutika di kalangan perguruan tinggi islam. Ya, walaupun tidak bisa digebyah uyah podo asine, nyatanya salah satu mata kuliah tersebut menstimulus kita untuk merombak kembali teks vital agama dengan nafas kontemporer dan meminggirkan ketepi sungai ilmu para salafu shalih seperti ulumul quran, balaghah, nahwu, qira’at dan lainya. Nafas pembaharuan yang digaungkan oleh para orientalis tersebut memanglah sangat segar bagi para kaum muda, namun di sisi lain sifat skeptis yang diwariskan mereka telah banyak melampaui batas-batas syari’at yang mapan.

Sekali lagi saya tegaskan bahwa bukan untuk bermaksud tertutup dengan kemajuan zaman, maka sah-sah saja menggunakan metodologi apapun itu. Namun harus adanya filter dalam individu masing-masing dalam menanggapi produk hukum ataupun paradigma yang ditemui. Semisal saja pendapat Nasr Hamid Abu Zayd yang mengklaim bahwa Al-Qur’an adalah produk budaya, sehingga tidak terlepas oleh ruang dan waktu. oleh karena itu dalam perjalanannya, Al-Qur’an sebagai pesan Tuhan kepada Nabi Muhammad sampai pada umat Muta’akhirin tidak menutup kemungkinan mengalami distorsi sehingga Al-Qur’an dianggap belum final. Pendapat tersebut banyak menuai kontroversi, karena sebagaimana kita yakini bahwa orisinilitas Al-Qur’an dijaga langsung oleh Allah (bisa dicek dalam QS Al-Hijr : 9). sehingga Al-Qur’an sebagai perihal yang mutlak tidak boleh untuk semata-mata dinisbikan dengan akal sehingga kita terombang-ambing dalam keraguan.

Namun harus diakui, memang akan terasa rancu bila akan mendudukan semua kalangan dalam suatu pandangan seragam. Oleh karena itu, peran para mahasiswa salah satunya yaitu menyelesaikan pemahaman dalam membedakan antara agama dengan kiat-kiat beragama, membedakan antara syari’at, ushul fiqh, dengan produk hukum fikih. Karena bila terjadi kesalahfahaman epistemologi  tersebut, banyak perpecahan dan diskriminasi yang secara ongkang-ongkang menegasi orang lain. contoh sederhana saja, Allah mensyariatkan umat islam untuk membayar zakat. Pada zaman nabi menunaikannya dengan gandum. Sementara kenyataan dalam masyarakat indonesia menggunakan beras. Maka secara hukum fikih tetap sah berlandaskan kaidah ushul fiqh al’adah muhakkamah (adat istiadat bisa dijadikan hukum) karena antara gandum dengan beras sama-sama merupakan bahan pokok makanan dalam wilayah masing-masing.

Maka akan menjadi sangat rancu ketika ada sekelompok orang berbondong-bondong membawa dalil ini itu menegasi orang lain dengan menuding salah ajaran. Padahal bila mau disederhanakan agama adalah sistem nilai yang menekankan mashlahat. Ketika dalam zaman canggih ini kita terpaksa melakukan transaksi jual-beli online misal, asalkan ada asas ‘an taradhin (sama-sama ridho) dan tidak ada unsur gharar, yasudah boleh saja. Oleh karena itu, khazanah keilmuan islam dalam kehidupan tidak boleh sekali-kali dipinggirkan, karena tema agama selalu mempunyai nilai emosional yang lebih untuk diperjuangkan.

Di lain sisi, salah satu peran lainnya para mahasiswa ialah selalu men-capture kiat-kiat beragama dengan se-ma’ruf mungkin. Karena sebagaimana kita sadari, kampanye kebenaran apabila tidak dilakukan dengan sistematis yang baik maka akan kalah dengan ke-bathilan yang terorganisir. Oleh karena itu dalam beragama tidak bisa jauh-jauh dari kemanusiaan, kata Gus Dur. Memang benar, karena kadar ketaqwaan seseorang makhluk dalam dunia, dapat diukur dari seberapa manfaat lagi srawung yang dicerminkan dalam bermasyarakat.

Salah satu contoh peran lainnya, yakni menghidupkan lagi merawat baik khazanah keilmuan literatur arab maupun teks manuskrip asli nusantara, dalam hal ini termuat dalam kajian filologi dewasa ini. Salah satu contohnya yakni naskah manuskrip Haqqul Islam karya Kyai Hasan Dimejo, yang ditulis kurang lebih pada tahun 1331 H di Dusun Bakudai, daerah Wonosobo Jawa tengah. Manuskrip tersebut memuat 21 bab peringatan yang harus dilakukan oleh seorang mukallaf dalam dimensi aqidah maupun fiqih. Salah satu pembahasan yang tersurat dalam 21 bab tersebut ialah mengenai ummatan wasathan. Hal tersebut dapat kita lihat dalam peringatan atau fasal nomer 5 dan nomer 6 yang berbunyi :

Kriteria pertamatiyang ingkang sampun sinifati ummatan wasathan  yoiku wong kang inggih tentu wakda nerangaken sedaya wicaranipun ingkang kasebut ing pranatanin sak lebetipun haq islam puniko” Artinya “ Orang yang mempunyai sifat ummatan wasathan yaitu orang yang bisa menerangkan segala hal yang termasuk dalam haq islam tersebut”.

Pada bagian ini, diterangkan bahwa sifat pertama orang yang ummatan washatan sebagaimana (QS.Al Ashr : 3) ialah orang yang mampu menjalankan  وَتَوَاصَوْا۟ بِٱلْحَقِّ  yakni saling menasehati dalam jalan kebenaran, menegakkan syari’at yang telah ditetapkan oleh Islam. Serta وَتَوَاصَوْا۟ بِٱلصَّبْر  serta saling menasehati dalam bersabar dalam menjalankan kewajiban Allah serta menjauhi larangan-Nya.

Kriteria Kedua  yang tersurat dalam bab nomer 6 “ tiyang ingkang sami bade lumebet ing haq islam. Inggih mboten dados syarat mawi sarana beka arto utawi bekakas punopo-punopo mboten. Anamung bade lumebe ing haq islam wakda bekta sarana ingdalem meneh nejo taubat marang Allah”. Artinya “ orang yang mendalami haq Islam tidak pernah mensyaratkan sarana prasarana berupa harta atau barang-barang lainnya. Adapun orang yang mendalami haq Islam harus mempunyai niat untuk taubat kepada Allah”.

Pada bagian ini disebutkan bahwa kriteria kedua orang yang memiliki sifat ummatan washatan ialah orang yang menjalankan syariat dengan sebenar-benarnya. Yang paling terpenting ialah hatinya selalu bermaksud untuk taubat kepada Allah. Karena kepemilikan harta maupun barang-barang sarana prasaran lainnya tidaklah bernilai dalam agama kecuali hati yang selalu terpaut kepada-Nya.

Hemat kata dari penulis, siapa pun anda yang sedang membaca tulisan ini, saya ingin menyampaikan bahwa setiap dari kalian mempunyai tanggungjawab yang sama untuk merawat segala khazanah keilmuan islam. Karena, tema agama adalah hal yang sarat akan emosional, oleh karena itu kita semua mempunyai peran untuk selalu ma’ruf  dalam perkembengan zaman yang dinamis. Dengan “Semangat Baru di Rumah Tradisi”.

Wallahu a’lamu bis showab

.

.

Oleh: Ahmad Mahmud Al Hamidy

(dalam Buku Meniti Peran dalam Pergolakan Krisis Teologi dan Kemanusiaan 4.0)

PMII Walisongo

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Next Post

Bucin Progresif

Sen Agu 15 , 2022
Tau Mengapa kau sebegitu ingin kuperjuangkan? Karena bersamamu aku mengerti arti Cinta dan Perlawanan. Sebuah pesan yang dikirim Joni, sesaat sebelum ia mengikuti aksi dengan tagar besar #reformasidikorupsi. Pesan itu ditujukan pada Riana, kekasih hatinya yang belakangan seringkali ngambek saat Joni ikut turun ke jalan untuk menyuarakan hal-hal yang perlu […]