Mental Kolonial Zaman Now

“Apakah bangku-bangku itu mengajarkan kita tentang arti kata ‘Merdeka’ yang sesungguhnya?Lantas mengapa tidak jarang orang bergelar justru merampas hak sesamanya?”

….

“Selamat datang, Joni…” Joni mendapati dirinya berada di ruangan bergaya sangat klasik, terakhir kali ia masuk ke rumah seperti ini adalah ketika Joni penasaran dengan rumah-rumah tua kosong di sekitar pabrik gula peninggalan kolonial Belanda.

Joni tergerak masuk dengan sendirinya memasuki rumah tersebut sesudah dipersilahkan oleh seorang tua berusia setengah abad lebih dengan pakaian seperti inspektur polisi zaman Belanda, pakaian yang Joni lihat di film Bumi Manusia beberapa bulan lalu. Orang itu berkumis tebal, wajahnya seperti asli orang Indonesia, tapi bukan dari Jawa.

“Boleh saya tau, siapa nama, Tuan?” Joni memberanikan diri untuk bertanya meski wajahnya agak ragu.

“Saya adalah orang yang mungkin kau benci, seseorang yang menjadikan buku berjudul Rumah Kaca itu ada, bahkan sampai kau membacanya berkali-kali,” jawabnya dengan kalem.

“Tuan Pengemann dengan dua n? aku pikir kau tidak nyata, Pak Pram hanya menuliskan engkau sebagai pelengkap ceritanya…”

“Kau salah, Jon…” Tuan Pangemann langsung memotong ucapan Joni. “Justru aku sangat nyata. Bahkan sampai pada masamu, orang-orang sepertiku akan selalu ada dan terus melipatgandakan keberadaanya.”

“Lantas untuk apa kau mengundangku kemari, Tuan? Kau sendiri mengira aku membencimu, bukan?” Joni menggunakan pertanyaan dengan gaya bahasa seperti pada buku Rumah Kaca.

Tuan Pangemann tidak menjawab, ia seakan mempersilahkan Joni melihat seisi rumahnya, ada banyak lukisan di dinding yang menggambarkan bagaimana berkuasanya kolonial pada masa itu. Begitu jelas bagaimana orang-orang Pribumi di Hindia Belanda hanya menjadi budak dan sedikit sekali yang bisa sukses serta mendapat jabatan penting dalam pemerintahan, hanya orang-orang pintar tetapi picik dan munafik yang mengorbankan bangsanya sendiri macam Tuan Pangemann ini yang mendapatkan kesuksesan fana itu.

Joni teringat salah satu lagu dari band Punk kesukaannya, Romi And The Jahats. Ia mulai bernyanyi dengan sangat lirih sembari terus memperhatikan lukisan-lukisan itu, meskipun begitu Tuan Pangemann bisa mendengar dan meresapinya.

Ada saat senja, waktu terawan dituliskan…

Dalam jingga hitam, hidup seseorang…

Ada kehinaan dalam, saat terkelam dilagukan…

 Dalam suram pekat, gelap, dan sendirian…

Ada saat kita gagal, kalah telak dalam segala hal…

Ada saat pria menangis,

Bahkan sampai air matanya habis…

Ada kebaikan, saat terendah disematkan…

Dianggap hilang, setara dengan sampah…

Ada saat pria, luka dalam dan berdarah…

Tapi yang menetes adalah nanah…

Ada saat pria tersungkur,

Terpaksa menelan tanah berlumpur…

 Ada saat pria berdiri,

Tetapi dirajam tai sendiri…

“Nyanyian masamu terasa lebih mengena daripada nyanyian di masaku, Jon…” Belum selesai Joni bernyanyi, ia memotong nyanyian Joni. Mungkin mengira nyanyian itu telah selesai.

“Setiap zaman punya nyanyiannya masing-masing, Tuan. Begitu pun dengan pertempuran.”

“Anggap saja aku sedang melagukan Jingga hitam dalam hidupku ini, Jon, biarlah aku terhinakan dan kelak aku akan menghitung dosa-dosaku sendiri…” Tuan Pangemann seperti bersiap-siap untuk menjawab pertanyaan-pertanyan Joni yang terucap ataupun tidak. “Aku adalah budak, Jon, pada masanya. Dengan segala pangkat, pujian dan bintang yang Gubermen berikan padaku. Aku tetaplah budak. Aku sadar, semakin kulakukan pekerjaan itu maka semakin aku terjebak dalam lumpur. Tapi bagaimana pun ini adalah pilihanku. Maka aku menuliskan lembaran yang kini dinamai Rumah kaca itu adalah agar kelak anak-anakku serta penerus generasiku tidak terjebak dalam lumpur yang sama. Biarlah aku mati dalam kehinaan, sebagai suatu pembelajaran bahwa selama-lamanya yang kolonial adalah sampah meskipun beratus tahun lamanya mereka bisa buat kita kalah, tapi itu tidak berarti kita lebih rendah dari sampah.”

Tuan Pangemann menyalakan cerutunya lalu memandang Joni dengan lekat “Benarkan? Orang -orang sepertiku pada zamanmu, lebih banyak, Jon?”

“Tepat sekali, Tuan.” Jawab Joni singkat.

“Sayang sekali, di masamu orang-orang pribumi yang terpelajar jumlahnya berjuta kali lipat dari masaku. Mengapa mereka tidak belajar dari sejarah. Jangan sekali-kali lupakan sejarah, Jon.”

“Si Bung Putra Sang Fajar pernah mengatakan hal itu pada masanya, Tuan. Si Bung juga pernah mengatakan bahwa perjuangannya lebih mudah karena melawan penjajah, tetapi perjuangan pada zamanku akan jauh lebih sulit karena melawan bangsa sendiri. Dan sebagian orang-orang terpelajar yang menjual nuraninya itulah yang kini menjadi penjajah, Tuan, menjajah bangsa sendiri.”

“Bagaimana bisa itu bisa terjadi? Mengapa banyak orang lebih memilih mengikuti jejak langkahku dari pada jejak langkah guruku, Raden Mas Minke?” Tuan Pangemann heran mendengar penjelasan Joni.

“Entah, aku sendiri kurang tau mengenai hal tersebut, Tuan, yang jelas di masaku banyak orang menjual hati nurani dan idealismenya demi sebuah harta dan tahta. Bahkan hal itu telah didoktrinkan secara terstruktur dan massif sejak dalam pikiran. Sejak di sekolah atau bahkan lebih dalam lagi saat di perguruan tinggi…”

“Perguruan tinggi??” Tuan Pangemann memotong penjelasan Joni. “Aku teringat orang-orang hebat dari Sekolah Kedokteran STOVIA yang dulu harus kubungkam karena begitu merepotkan kerjaku di masa tua. Mereka adalah motor penggerak pada zamannya, menggerakkan organisasi-organisasi pribumi pertama yang saat itu taruhannya adalah nyawa. Mengapa kini justru orang-orang terpelajar setingkat itu banyak menjual nuraninya sendiri?”

“Sayang sekali, Tuan, organisasi-organisasi di masaku justru banyak yang bermesraan dengan kolonial-kolonial masa kini. Idealisme pemuda yang dulu dibanggakan Tan Malaka dari penjara ke penjara, sudah banyak yang dijual dengan harga tinggi dan mewah. Meski bagiku itu sangatlah rendah. Bagaimana pun kemerdekaan adalah sesuatu yang sangat mahal, kemerdekaan dijahit dengan darah, dipintal dengan nyawa jutaan pemuda sampai kalangan tua pada masanya. Bukan begitu, Tuan?”

“Ahh… aku tak pantas bicara banyak tentang kemerdekaan. Lantas apa yang akan kau lakukan di masa sulit seperti itu, Jon? Mempertahankan atau justru menjual idealismemu?” Tuan Pangemann bertanya dengan raut muka serius.

“Aku akan buat jalanku sendiri, Tuan. Ada segelintir orang seperti guru, Tuan, Raden Mas Minke pada zamanku. Mereka adalah orang-orang merdeka selama hidupnya  bahkan sampai matinya. Mereka adalah orang-orang yang berhasil membuat jalannya sendiri. Aku ingin mengikuti jejak mereka dengan gayaku sendiri, Tuan.”

“Semoga nuranimu terjaga dari mental-mental kolonial sepertiku dulu, Jon…” ungkap Tuan Pangemann sembari pergi menghilang bersamaan dengan bangunnya Joni karena alarm berbunyi saat fajar masih belum muncul.

Ternyata Joni memimpikan pembicaraan tentang hal yang nyata di masanya, tentang kondisi bangsanya yang kini sedang tidak baik-baik saja. Akibat dari keserakahan sebagian orang bergelar yang menggunakan keterpelajarannya untuk merampas hak sesamanya.

.

.

.

Karya Muhamad Syafiq Yunensa, dalam Buku Joni Melawan Arus

pmii walisongo

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Next Post

Mengapa Nahdlatul Tujjar: Ijma’ Nahdliyin dalam Etos Kerja Ekonomi Menghadapi Kolonialisme

Kam Mei 26 , 2022
Oleh: M. Taufiqurrohman Dalam catatan sejarah berdirinya Nahdlatul ulama’ mafhum bagi kita bahwasannya yang menjadi salah satu embrio lahirnya Nahdlatul Ulama’ adalah Nahdlatul Tujjar. Dalam kacamata saya sejarah berdirinya NU bukan hanya terkait dengan kondisi penjajahan belanda maupun situasi perpolitikan negara-negara muslim di dunia yang sangat terpengaruh oleh hegemoni wahabi […]

Baca juga