Mengapa Nahdlatul Tujjar: Ijma’ Nahdliyin dalam Etos Kerja Ekonomi Menghadapi Kolonialisme

Oleh: M. Taufiqurrohman

Dalam catatan sejarah berdirinya Nahdlatul ulama’ mafhum bagi kita bahwasannya yang menjadi salah satu embrio lahirnya Nahdlatul Ulama’ adalah Nahdlatul Tujjar. Dalam kacamata saya sejarah berdirinya NU bukan hanya terkait dengan kondisi penjajahan belanda maupun situasi perpolitikan negara-negara muslim di dunia yang sangat terpengaruh oleh hegemoni wahabi yang memungkinkan NU untuk berdiri, tetapi bisa di lihat juga dari peranan para kiyai dan pesantren dalam melakukan suatu gerakan ekonominya.

Tidak begitu banyak memang literatur yang membahas terkiat NU yang mengaitkan dengan perjuangan ekonomi kiai dan pesantren. Hal ini mungkin terjadi dikarenakan minimnya fakta sejarah yang tertulis ataupun lisan terkait dengan gerakan ekonomi kaum Nahdliyin. Dalam tulisan sederhana ini, penulis berusaha mencoba menjelaskan sedikit terkiat dengan Nahdlatul Tujjar yang mungkin bisa kita siangakat sebagai (NT).

Mengapa Nahdlatul Tujjar?

            Dalam situasi kolonilisme kaum muslim tradisional mengalami kekalahan yang begitu telak dalam merespon kondisi perekonimian dari para muslim modernis dan juga kebijakan politik kolonial Belanda. Respon pertama yang di lakukan oleh kaum tradisional ini bermula dari para pedagang di daerah sekitar pabrik gula cukir jombang yang mengalami begitu banyak desakan dari para pedagang kota di awal tahun 1910 an (Jarkom Fatwa,2004).

Dari hal diatas dapat kita analisa bahwa adanya organisasi muslim modernis pada saat itu tidak hanya menyerang kaum tradisionalis dengan hegemoni TBC (Takhayul, Bid’ah, Churafat), melainkan juga bergeser pada kepentingan ekonomi muslim tradisional (Jarkom Fatwa, 2004). Tekanan lain pula datang dari kebijakan politik kolonial Belanda pada umumnya maupun pada khususnya, dengan pendirian sekolah-sekolah modern Belanda yang berdampak pada pemarginalan sekolah tradisional seperti pesantren. Hal ini berimbas pada kemerosotan “Bumiputera” dalam menuntut ilmu dan beragama.

KH. Hasyim Asya’ari dalam deklarasi NT pernah berucap “Wahai pemuda putra bangsa yang cerdik pandai dan para ustadz yang mulia, mengapa kalian tidak mendirikan saja badan usaha ekonomi yang beroperasi, dimana setiap kota terdapat satu badan usaha yang otonom” (Jarkom Fatwa, 2004). Dalam ucapan beliau ini menurut saya terdapat sirit serta etos ekonomi kerakyatan yang digambarkan melalui argumentasi relasi antara agama dan ekonomi.

Melihat konteks yang sudah terpapar di atas, bisa kita ketahui bahwa alasan berdirinya Nahdlatul Tujjar merupakan sebuah respon akan kesadaran kaum Nahdliyin sebagai penganut islam tradisional atas kepentingan ekonomi mereka. Hal ini tentunya mencerminkan bahwa kaum tradisional sadar bahwasannya persoalan ekonomi dan pendidikan keduanya berjalan beriringan, karena basis ekonomi adalah basis yang perlu di galakkan agar dakwah islam berjalan lancar. Dan tujuan awal dari berdirinya Nahdlatul Tujjar adalah sebagai upaya untuk memperhatikan “bumiputera”.

Bagaimana Gerakan NT Dalam Konteks Global, Nusantara, dan Karesidenan

Seperti apa yang saya sebutkan bahwa cikal bakal berdirinya NT berawal dari daerah sekitar pabrik gula cukir di jombang. Hal ini juga mempengaruhi ruang gerak dari NT sendiri yang dimana dalam berjalannya fokus gerakannya sendiri terhadap usaha-usaha pertanian yang dimiliki oleh para kaum tradisionalis. Di sisi lain sepak terjang dari NT sendiri berada dalam dominasi dan hegemoni ekonomi-politik Belanda yang membuat kaum nahdliyin mengalami penetrasi dari adanya politik etis yang di lakukan Belanda yang menyebabkan perubahan sosio kultural masyarakat.

Dan untuk itu konteks gerakan yang dilakukan oleh Nahdlatul Tujjar memang bisa terklasifikasi menjadi tiga konteks selama masa berdirinya, Pertama, dalam konteks global NT berada dalam siklus dunia tentang jatuhnya pertanian dan tumbuhnya diverivikasi lahan dari pertanian menjadi perkebunan. Efeknya adalah Nahdlatul Tujjar dalam masa resesi dan beralih ke dalam gerakan politik kebangsaan berdasarkan Khittah 1926.

Kedua, dalam konteks Nusantara NT melakukan gerakan keswadayaan melalui pertanian yang berada dalam siklus politik etis yang sebelumnya pernah di tangguhkan oleh kolonial Belanda. Ketiga, dalam konteks karesidenan Nahdlatul Tujjar bergerak sebagai bumiputera yang berdasarkan cita-cita keagamaannya, yakni membangkitkan serta membebaskan kaum bumiputera dari kebutaan dan kegelapan dakam hal pendidikan, selain itu menyadarkan orang-orang alim yang tidak melkaukan apa-apa karena takut timbul fitnah u tuk melakukan perlawanan atas terjadinya perampasan hak, karena jika perlawanan itu berhasil sesungguhnya dapat memperkokoh serta menguatkan persyarikatan kaum alim.

Melihat dari ketiga konteks diatas sebetulnya merupakan suatu upaya untuk melindungi para santri dan juru dakwah agar terhindar dari perburuhan kapitalisme. Sikap dan kritik yang dilakukan Nahdlatul Tujjar memang tidak sama dengan apa yang di lakukan oleh kaum pergerakan kiri, akan tetapi lebih moderat.

Apa yang menjadi alasan dan dasar gerakan NT adalah memperjuangkan posisi kaum nahdliyin yang berstatus bumiputera agar tidak mengalami degradasi moral khususnya dalam pendidikan dan upaya memperkuat ekonomi finansial. Dan mau tidak mau basis sosial yang tidak di dukung dengan ekonomi yang kuat pasti akan berakhir.

Sebagai penutup meskipun dalam perjalanannya Nahdlatul Tujjar mengalami pergeseran gerakan dan beralih ke gerakan politik kebangsaan akan tetapi setidaknya perjuangan yang di lakukan dalam Nahdlatul Tujjar merupakan upaya dari kaum nahdliyin dalam membangun gerakan ekonomi kerakyatan. Dan untuk itu perlu kiranya generasi muda nahdliyin saat ini lebih kuat lagi dalam melakukan gerakan-gerakan pembangunan ekonomi untuk memperkuat basis sosial yang di miliki oleh kaum nahdliyin itu sendiri.  

pmii walisongo

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Next Post

Aksara Sebagai Kunci Ekskavasi Literatur Nusantara

Sel Mei 31 , 2022
Oleh : M. Taufiqurrohman Pernahkah kita berfikir bagaimana asal muasal kue kacang, hingga rengginang dalam toples khong ghuan. Bukankah semua yang terjadi hari ini adalah proses yang terjadi dari nenek moyang kita. Namun fokus kita bukan terkait hal itu yang akan kita bahas kali ini, tapi terkait jawa itu kaya akan […]