Mengapa Kita Kurang Sat-Set Kecuali Disuruh Ayang

Ilustrator. Kominfo

Ayang adalah panggilan yang cukup trend saat ini, biasa digunakan untuk memanggil doi, pacar, kekasih, atau mungkin besti kita. Berbicara tentang “Ayang” tak bisa lepas dari kemesraan atau hal-hal romantis yang cenderung berlebihan, mungkin bisa dikatakan alay.

Beberapa meme lucu pun bermunculan, menghiasi fenomena Ayang yang semakin meluas, mungkin kalimat seperti “Tersedak, karena Ayang Cuma nyuruh makan, nggak nyuruh minum,” atau “Nahan ngantuk, karena belum disuruh bobo sama Ayang” seringkali menghiasi beranda sosial media kita.

Menyukai seseorang merupakan hak masing-masing individu. Pada dasarnya tidak ada yang menyalahkan ketika kita menyukai seeorang. Terlebih lagi orang yang disukai juga menyukai balik kita. Perasaan yang tak bisa dihindarkan lagi saat keduanya sama-sama mencintai. Namun perasaan berlebihan yang terkadang membuat seseorang melupakan beberapa hal yang harus dilakukan karena sudah terbiasa bergantung pada instruksi Ayang.

Sebutan “Bucin” atau Budak Cinta kerap diberikan kepada orang-orang yang berlebihan dalam melaksanakan instruksi Ayang. Fenomena ini sebenarnya bukan hal baru, dalam sejarahnya cinta selalu menjadi hal yang terkadang tidak masuk akal untuk dijadikan alasan guna melakukan apa pun, bahkan berkorban nyawa untuk orang yang dicintai.

Mengutip ucapan Erich Fromm “Segala upaya untuk cinta pasti gagal, kecuali jika dia berusaha keras mengembangkan kepribadian total, untuk meraih sebuah orientasi produktif; bahwa kepuasan dalam cinta individu tidak dapat diperoleh tanpa adanya kapasitas untuk mencintai sesamanya, tanpa kerendahan hati, keberanian, keyakinan, dan disiplin yang nyata.”

Sangat jelas bahwa ia merupakan orang yang percaya dengan kekuatan cinta. Yah, cinta yang tidak disalahartikan tentunya. Dalam buku Joni Melawan Arus yang kutulis, terdapat wacana Bucin Progresif. Mungkin sepenggal kalimat dari Erich Fromm bisa cukup mewakili terkait makna dari Bucin Progresif. Perlu digarisbawahi bahwa yang dimaksud Bucin bukanlah Budak Cinta, akan tetapi Barisan Pejuang Cinta.

Bucin Progresif adalah istilah yang merujuk pada sepasang kekasih yang saling mencinta dan berjuang untuk dirinya masing-masing dengan tetap memberikan kebermanfaatan bagi sesama. Dalam buku Catatan Sang Berandal jelas terlihat bagaimana proses menjadi Bucin yang progresif, begitupun di buku Mengapa Kita Rajin Berjalan di Tempat, yang kuterbitkan bulan kemarin.

Melihat fenomena pacaran sekarang yang mungkin lebih mengarah kepada hal-hal unfaedah, Bucin Progresif bisa menjadi alternatif cara berpacaran yang elegan dan tetap keren.  Mencintai bisa berarti berkarya, mencintai bisa berarti menjaga, mencintai bisa berarti memberikan kontribusi nyata, karena cinta adalah tindakan bukan sebatas ucapan. Bila kita hanya melakukan aktivitas pacaran biasa tentu hanya berdampak pada diri sendiri dan pasangan, itu pun belum tentu baik. Lain halnya, apabila kita mencintai sembari menulis buku, sembari melukis, sembari menanam, sembari melawan koruptor, sembari memberi kebermanfaatan bagi diri sendiri maupun lingkungan, maka itu merupakan perbuatan terpuji, dan tergolong Bucin Progresif.

Energi cinta begitu besar, sudah sepatutnya kita mengarahkannya kepada hal-hal positif, tidak melulu soal nafsu. Belajarlah dari cinta ibu kita yang melindungi dan menjaga sejak kecil tanpa berharap pamrih atau balasan dari apa yang dilakukan. Cinta bisa berarti ketulusan.

Pacaran belum tentu cinta, begitu pun cinta bukan hanya tentang pacaran. Para pejuang cinta tidak akan menggabungkan antara cinta dan nafsu sebelum pada tempat dan waktunya. Begitupun Bucin yang sejati haruslah progresif, karena menjadikan mencintai sebagai aktifitas produktif yang berefek baik bagi diri sendiri maupun lingkungan sekitar.

Tentunya dengan menjadi Bucin yang progresif kita bisa lebih produktif dan memberikan kebermanfaatan bagi sekitar, bisa juga menunjang karier dan hidup kita kedepannya. Contoh  real adalah aku bisa lulus kuliah dengan hasil ngebucin berupa novel best seller, he he he.

Maka mulailah berhenti menunggu instruksi Ayang, mari buat situasi pacaran menjadi lebih produktif dan progresif. Buatlah kesepakatan dengan Ayang untuk melakukan hal-hal positif sesuai passion masing-masing. Bergeraklah, menulislah, membacalah, dan melawanlah karena Ayang, atau setidaknya karena orang-orang yang kita cintai. Maka beruntunglah bagi orang-orang yang bisa mencintai banyak orang, dengan tetap memberikan perlakuan istimewa pada Ayang.

Kini, mulailah sat-set dalam berkarya, kalau bisa minta tolong ke Ayang untuk menyuruhmu berkarya. Mengutip salah satu kalimat di Joni Melawan Arus, “Biarlah aku bergerak dan melawan atas nama cinta, agar ketika aku menghilang atau dihilangkan, cintaku masih ada untuk alam semesta”. Atas instruksi Ayang yang sudah terpapar Bucin Progresif, panjang umur perjuangan! Salam Pergerakan!

*Nb: Tulisan ini direkomendasikan untuk orang-orang yang punya Ayang

.

.

.

Oleh: Muhamad Syafiq Yunensa

(Penulis Buku Best Seller, Koordinator Lembaga Pers dan Wacana)

PMII Walisongo

One thought on “Mengapa Kita Kurang Sat-Set Kecuali Disuruh Ayang

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Next Post

Kupas Tuntas Sya’ban, Gapai Sang Insan Cendekia Ahlul Jannah

Sab Mar 19 , 2022
Bulan Rajab dianggap sebagai bulan bercocok tanam, sekarang pada bulan Sya’ban ini adalah bulan merawat, menyirami tanaman sedangkan bulan Ramadhan besok adalah bulan memanen. Imam Dzun Nun al-Mishri mengatakan, “Rajab adalah bulan menanam, Sya’ban bulan menyiram, dan Ramadhan bulan memanen. Setiap orang akan memanen atas apa yang ia tanam. Barangsiapa […]