KKN, Apa kabar?


Lu’lu’ Fuadah

Selasa, 08 Oktober 2019. Kami berlima belas di berangkatkan di salah satu Desa perbatasan Semarang dan Salatiga. Aku sempat khawatir perihal bagaimana 45 hari disana. Hidup seatap dengan lima belas isi kepala yang berbeda tentu tidak semudah bermain ular tangga. Pastinya ada banyak hal yang harus di tanggapi “ya sudah, tidak apa-apa.”

Oh iya, Aku adalah tipe orang yang tidak pernah percaya cinta lokasi. Tidak ada cinta yang bisa tumbuh semudah menggerakkan telapak kaki.saat teman-teman kelas berpesan “awas lho, nanti cinlok.” Selalu ku jawab “Ndak mungkin.” tapi recana Tuhan jauh lebih berpotensi dari sekadar janji kepada diri sendiri. Entahlah, sini mendekat. Biar bisa ku ceritakan sepenuh hati.

Di minggu pertama, semua sangat baik-baik saja. Tiap pagi aku dan kawanku masih rutin jalan santai berkeliling Desa. Koordinator kami juga masih rajin bangun pagi. Tapi entah, sepertinya dia belum gosok gigi.

Oh iya, mari ku perkenalkan. Kami berlima belas tinggal serumah. Satu kamar untuk laki-laki, dan empat kamar untuk Perempuan. Rumah yang tidak terlalu besar membuat ruang gerak kami sedikit kurang longgar. Oleh karena itu, kami bisa lebih mudah saling mengenal. aku sudah mulai hafal empat laki-laki unik yang selalu ku lihat sebelum tidur hingga beranjak tidur lagi. Ada Mas Ma’mun yang gemar mengaji dan selalu memotong antrian mandi, ada Husnil si budak cinta yang selalu menggangguku kapanpun dan dimanapun, baik di ruang tamu, di dapur, maupun saat mengantri mandi.

Ada juga Alaina, koordinator Desa yang kata orang sangat berwibawa, tapi bagiku biasa saja. Mengapa? Hobinya mengumbar gombalan tiap hari membuatku sedikit tidak enak hati. Dan yang terakhir, ada Ahmad. Sedikit menjengkelkan, tapi banyak bikin senyum-senyum sendiri. Sebelas lainnya, perempuan. Aku, Nur, Mazidah, Andri dan Miski sekamar. Kebiasaan kami hampir sama. Banyak membuli, menggunjing, dan banyak bicara. Hahaha.

Mereka tahu betul aku ini bagaimana. Aku yang selalu telat bangun pagi dan selalu berpakaian kurang senonoh saat di kamar sudah menjadi hal biasa. Sebelah kamarku ada dua penghuni. Yasmin dan Permata. Yasmin yang baperan namun rajin memasak kentang, dan Permata yang aduhai sangat sexy dan sering di kunjungi pacar. Di sebelah dapur ada dua kamar. Satu di tempati Zulfa dan Syafira, satu lagi di tempati Cici dan Naila. Mereka sangat baik dan menyenangkan.

Aku sering ke kemar mereka untuk sekadar mencari teman membicarakan orang atau tidur siang. Seminggu ini aku sangat kerasan.

Di minggu kedua, kami sudah mulai akrab dengan warga Desa. Penduduk disini beraneka ragam dan hidup rukun berdampingan. Ada Hindu, Budha, Kristen, dan Islam. Setiap pagi aku gemar sekali berbelanja. Wajar, aku tidak bisa memasak sama sekali. jadi, memasangkan perkedel dengan sop menjadi andalanku tiap selasa pagi. Selain ke pasar, aku senang sekali mengisi ulang air minum di tempat yang agak jauh. Selain karena harganya yang murah, ada juga kupon berhadiah. Sepanjang jalan mengisi galon, akan ada pekerja pabrik olahan daging ayam berlalu lalang, serta pohon-pohon karet yang berjajar. Iya, di Desa tempat kami tinggal, rumah penduduk bisa di bilang ilegal. Tanah disana seluruhnya milik pemerintah untuk perkebunanan karet. Mereka menyebutnya PTPN XI Getas.

“Rumah dan tanah kami tidak bersertifikat mbak, kalau pemerintah mengadakan perluasan tanam karet, kami harus siap di gusur kapan saja.”cerita salah satu warga Desa yang kerap kami panggil Pakdhe.

Kita kembali lagi, bicara soal isi ulang air, aku biasanya mengajak Mas Ma’mun untuk mengisi galon. Tapi lama-lama dia menolak. Dia malu karena sepanjang jalan aku memukuli galon sambil bernyanyi.

“Aku udah ngga mau nganterin kamu isi galon ah.”
“Lah kenapa sih Mas?”
“Kamu malu-maluin. Sana sama Ahmad aja.”

Ku lihat ke arah Ahmad yang sedari tadi duduk di shofa. Wajahnya sangat menyeramkan. Persis seperti beruang yang hendak menerkam.

“Apa lihat-lihat?”

“Ya biasa aja dong. Cuma mau minta dianter beli galon.”
Tanpa bicara sepatah dua patah kata lagi, dia langsung berdiri. Aku diam saja karena ku pikir dia juga tidak mau dan hendak pergi.

“Heh, malah bengong. Jadi nggak?” Teriaknya dari depan rumah.

“Lho, ku pikir tidak mau mengantar.” Jawabku sambil bergegas keluar.

Karena aku takut mengawali pembicaraan, kami hanya diam. Sesekali dia menengok ke spion. Dan nampak aku yang sepanjang jalan menarik nafas dalam-dalam. Sejak pagi itu, dia semakin menyebalkan. Dia lebih sering menggangguku daripada Husnil. aku yang sering di buat kesal, mencoba sesekali balas dendam dengan menyembunyikan rokok dan korek apinya. Aku sendiri kurang faham, mengapa laki-laki bisa semarah itu saat korek apinya hilang. Dia mengejarku hingga memutari rumah. Di injak kakiku hingga aku berteriak kesakitan.

****

Di minggu ketiga, masalah mulai muncul. Dari kedekatan Kordes dengan salah satu anggota yang berlebihan, hingga teman-teman yang sering membicarakan bendahara yang katanya makanan kami setiap hari kurang layak akibat terlalu menghemat pengeluaran. Ahmad masih sama, selalu menatap dengan tatapan menyeramkan dan tidak pernah berkomentar. Di minggu ini teman-teman lebih sering jalan-jalan. Namun Ahmad tidak. Yang awalnya tidak pernah di Posko seharian, kini dia lebih sering menghabiskan waktu untuk sekadar bercerita di teras depan. Jika kalian bertanya mengapa aku senang membicarakan Ahmad? Karena Ahmad berbeda.

“Pernah suka orang?” dia mengawali pembicaraan.

“Tidak pernah.” Jawabku sambil membuka lembaran buku Bumi Manusia karya Pram.

“Mau ku ceritakan sesuatu?”

“Iya boleh.”

“Tadi malam Husnil kenapa? Putus cinta?”
“Mungkin.”
“Asal kamu tahu, cerita cintaku lebih rumit dari Qais dan Laila.”
“Mana ada, berlebihan sekali. Coba ceritakan”
“Jadi begini, jika orang-orang biasa mencintai dengan jalan belok kanan, kiri, atau lurus, aku berputar-putar dulu. Hampir empat tahun aku berhubungan tanpa kejelasan. aku mencintai gadis ini sejak semester awal.

Anaknya baik dan perhatian. Saat aku sakit, dia yang mencucikan semua pakaianku yang kotor dan memasakkan rendang. Hingga suatu saat ku beranikan bertanya. “kau ada rasa denganku?”, dia jawab “iya”. Kami semakin dekat, hingga suatu saat dia melarangku dekat dengan gadis lain. Aku tidak masalah dengan hal itu, namun aku jadi tidak nyaman saat aku juga memintanya untuk tidak terlalu dekat dengan laki-laki lain dan dia menjawab “lho kau ini siapaku? Beraninya melarang.” Pernah suatu ketika saat dia ulang tahun, ada laki-laki lain yang juga sangat mencintainya. Dia berikan hadiah bermacam-macam untuk menyenangkannya. Dia bercerita kepadaku “aku di beri ini itu” lalu ku beri dia kebebasan. Untuk dia yang seharusnya bisa berpikir, ku tawari “mau bagaimana? Kau boleh memilih. Kita sampai sini saja juga tidak apa-apa.” Dia tidak menjawab malah menangis. Aku bingung sangat, aku harus bagaimana. Tak tega aku melihat wanita menangis.”

Ku tutup bukuku, ku lihat sorot matanya sudah berbeda. Seperti ada sakit yang di biarkan basah dan penuh nanah. Aku tidak tahu, melihat tatapannya yang nanar hatiku ikut sakit seperti tersayat senar. aku diam saja karena aku juga tidak tahu harus bagaimana.

“Aku harus bagaimana?”
“hmmmm tidak perlu, terimakasih ya sudah mau mendengar.” Dia beranjak dari shofa. Melihatku dengan sedikit tersenyum dan bergegas ke kamar.

****
Hari-hari kami berjalan seperti biasa. Segala jenis kegiatan kami ikuti sesuai jadwal yang sudah tertera. Lambat laun aku merasa sedikit tidak enak saat berada dekat Ahmad. Aku juga jadi sering mencari-cari saat Ahmad belum bangun tidur dan khawatir kalau Ahmad belum makan.

Memangnya Ahmad itu seperti apa? Untuk aku yang baru kenal tiga minggu, Ahmad adalah laki-laki berpenampilan biasa saja. Orangnya malas mencuci pakaiannya sendiri dan lebih memilih laundry. Jarang beribadah, namun sangat luar biasa dalam hal ukhuwah. Ahmad juga pernah belajar di Pesantren selama 6 tahun. Kemampuan berbahasa Arabnya sudah tidak perlu diragukan. Asal kalian tahu, kami sering membicarakan teman-teman kami yang agak menjengkelkan dengan Bahasa Arab agar kami saja yang faham. Dia juga sering menjebakku dengan pertanyaan-pertanyaan tentang Tuhan. Aku sering sebal saat dia bertanya perihal ketauhidan. otakku ini terlalu kecil, jika di paksa bisa mimisan.

Selain itu, pemikirannya sangat berbeda dengan teman-teman lainnya. Dia selalu berfikir jangka panjang dengan penuh pertimbangan. Pernah suatu ketika, salah satu temanku butuh jemputan saat kami seposko harus hadir dalam acara peresmian program unggulan. Motor kami yang terbatas, memaksa salah satu harus mau mencari pinjaman.

“Aku yang cari motor, kau yang jemput Yasmin.” Ucapnya pada Husnil
“Ogah, malas aku Mad.”
“ya sudah berarti kau yang cari motor. Aku yang jemput Yasmin.”
“Sudahlah biarkanYasmin, malah bagus to, nanti motornya tidak kurang.”
“Laki-laki macam apa kau? Ini masalah tanggung jawab.”
Kami semua diam. Dan aku, sangat terkesan.

****

Di minggu ke empat, di posko kami tercipta beberapa kubu. Mereka yang sudah memiliki pasangan, cenderung lebih senang berkumpul bersama untuk membahas pasangan mereka. Aku yang sudah sangat jengah mendengar pembahasan yang setiap hari selalu sama, tak segan berteriak

“Halo, adakah menu sarapan lain?”

45 hari bukan waktu yang lama, kenapa tidak kita habiskan untuk bermain kartu maupun bernyanyi bersama. Membicarakan kekasih masing-masing tidak akan ada habisnya. Toh sepulang dari sini mereka masih bisa menghabiskan rindu dan pergi berdua. Kalau berlima belas, mana bisa?

Aku sudah mulai tidak nyaman di rumah. Apalagi saat melihat Ahmad, hatiku serasa patah. Bagaimana tidak, saat peresmian program unggulan di kecamatan sebelah, gadis yang di cintai Ahmad datang. Mereka bercanda dan bercakap tanpa ada beban. Jika kalian tanya aku ada tidak disana? Ada, tepat di depan mereka. Melihat langsung dan seketika ingin pulang.

Sejak saat itu, aku harus bisa mendidik diriku sendiri untuk mencintai dengan bijaksana. Tetap bersikap biasa saja dan pura-pura tidak ada apa-apa. Memang begitu manusia, dia butuh bahagia namun sukanya berpura-pura. Semakin aku berusaha biasa saja, semakin kami banyak menghabiskan waktu berdua. Dari membersihkan posko berdua, mencuci tikar di sumur depan rumah bersama, mengambil bibit tanaman ke sebuah lembaga, mengurus akomodasi acara dengan warga. Desiran itu semakin terasa, hingga tiba saat pengajian akbar di Desa.

Sore sebelum pengajian, aku di amanahi untuk menjadi pembawa acara. Aku mempersiapkan teks sesorean. Dan dia tiba-tiba datang.

“Sini latihan, biar ku dengarkan.”
“Nggak ah, malu.”

Aku berpindah tempat, dia masih mengikuti. Aku diam, dia mengawasi. Bagaimana tidak salah tingkah dan grogi?
Sore sebelum pengajian, kami bergotong royong menata tikar. Tiba-tiba temanku mengagetkan “Heh Ahmad, ngapain lihat dia terus?”

Aku menengok ke arah Ahmad, dia pura-pura tidak melakukan apa-apa. Ku tanya ke temanku “ada apa?”

“itu Ahmad, lihat kamu terus dari tadi.”
“ah sudahlah tidak usah di perdulikan.” Jawabku pura-pura santai, padahal hatiku berangin kencang seperti di pantai.

Acara sudah hampir dimulai. Ahmad datang dengan songkok hitam dan sarung gelap sedikit kehijauan sembari membawa gitar. Aku terpaku, memuji dalam hati “oh Tuhan, tampan sekali makhlukmu satu ini.”

“kenapa senyumnya tidak lepas? Mau naik panggung grogi?”. Lamunanku tiba-tiba buyar, lagu sheilla on seven yang sedari tadi berputar di anganku berubah menjadi gambang Semarang.

“eh gimana Mad?” “Enggak, tadi ku lihat dari kejauhan senyummu tidak lepas. Kenapa? Mau naik panggung grogi?” ku jawab dengan anggukan pelan.
“Ucapkan ini pelan-pelan. Rabbi isrohli sodri.” Bisiknya.
Ku coba berulang kali dan masih saja grogi. Lalu dia menarik tanganku, mengajakku masuk ke dalam ruangan. Dia memainkan gitar, dan aku bernyanyi dengan suara yang memang dari lahir sudah sangat sumbang. sesekali dia melirikku dengan tatapan nakal, ku balas dengan cubitan. Dan benar, grogiku sudah hilang.

Setelah pengajian dan program kerja selesai, waktu kami serasa sangat sempit. Kami menjadi lebih sering bercerita berdua tentang masa-masa di Pondok, nonton vlog UUS di dapur, berdiskusi ringan tentang lapangan Desa yang seharusnya tidak di biarkan gersang, hingga rencana studi di masa depan. Kita juga sering menerjemah lagu Inggris bersama. Yang terakhir, aku dan dia menerjemah lagu “I’ll never love again” dari Lady Gaga. Ketika sampai pada lirik Don’t wanna feel another touch, dia menetapku lekat-lekat.

Sehari sebelum penarikan, kami se posko memutuskan untuk jalan-jalan bersama ke salah satu wisata edukasi di daerah Semarang. Awalnya kami sepakat untuk pergi ke Jogja, mobil sudah di sewa, rencana dan anggaran sudah di tata. Namun ada beberapa dari kami yang tiba-tiba tidak bisa. Saat penentuan tempat wisata, pasti ada yang tidak satu suara.

“Sudahlah tidak usah jalan-jalan. Uangnya di bagi saja.” Ucap salah satu dengan nada tinggi.

Seketika hatiku sakit sekali, tidak habis pikir dengan orang yang tega membatalkan kesempatan untuk menciptakan memori demi kepentingan diri sendiri. Ahmad angkat bicara, dia mengusulkan agar jalan-jalan tetap diadakan. Dia melirik ke arahku yang sedari tadi sudah ketar-ketir jika rencana gagal.

“Pengennya kemana?” Dia bertanya pelan.
“Terserah, asal bareng seposko.” Jawabku.
“Ya sudah kita ke wisata ini teman-teman. Nanti kita bisa naik kuda dan bermain painball. Seru pasti.” Usulnya dengan menunjuk salah satu foto di google.

Kami semua sepakat untuk berangkat ke wisata yang di usulkan Ahmad. Saat kami sudah siap, dia malah mengambil bantal.

“Lho ayo berangkat.”
“Pakai aja motorku, nanti minta bonceng Noor. Aku biar sama temanku Thiyo. Nanti ku susul. Kalian berangkat dulu saja.”
“yasudah, paketanmu mana? Sini biar ku pakai. Kau pakai paketan dataku saja. Biar nanti lebih mudah mengabari.” Jawabku.
“iya, hati-hati ya.”

Perjalanan kami tempuh kurang lebih 2 jam. Sepanjang jalan aku tak henti menengok ke belakang. Sesampainya disana pun kami hanya sibuk foto-foto. Rencana untuk duduk bareng sambil makan gorengan, gagal total. aku berkali-kali bertanya ke teman-teman untuk menghubungi Ahmad. Dan jawabannya masih sama “Kalian senang-senang saja ya, nikmati dulu. ngga usah mikir aku.” Dalam hati aku mengumpat, “kok bisa-bisanya dia seperti itu. opo ndak ngerti, sing tak tunggu ki koe. nggak mbois blass.”

Setelah sejam kita berputar-putar saja di area wisata, aku mengajak teman-teman keluar untuk makan. Kami berhenti di salah satu restoran dekat pertigaan. Aku yang biasanya sangat lahap makan, tiba-tiba teringat Ahmad. makan apa dia seharian?

Sesampainya di posko, semua orang memarahinya. Dia hanya cengar-cengir tanpa ada beban. Aku memilih untuk langsung masuk kamar dan langsung berbaring menutup wajah dengan bantal agar orang-orang tidak tahu aku menangis sesenggukan. Aku tidak sanggup melihat Ahmad. semakin sesak dadaku juka ingat besok sudah penarikan. Aku bangun dan menarik napas dalam-dalam. Aku jadi ingat kalau tadi aku beli beberapa jeruk untuk Ahmad. aku keluar dari kamar dengan mata sembab.

“hey, kenapa?” aku masih berjalan terus menuju dapur. Mengiris beberapa jeruk dan meletakkannya di atas piring.
“Ini makan. Sepertinya segar. Jadi ku beli untukmu.” Ucupku sembari membuang muka.
“Makasih ya, aku makan.” Ucapnya sambil menatapku lekat-lekat.
“kau kenapa? Gimana jalan-jalannya? Senang?” dia bertanya dengan wajah tanpa dosa.
“seneng ndiasmu. Aku ki ngenteni koe. Rak teko-teko.” Gumamku dalam hati.
Aku hanya menggelengkan kepala. “kenapa nggak senang, karena nggak ada aku?”
Setelah ku tatap dia cukup lama, akhirnya emosiku meluap. “Koe reti rak si, caramu berbohong ki ndeso. Aku ngenteni koe tok. Mbok ojo pekok.” dia diam, entah karena berpikir atau karena tidak faham dengan bahasa Jawa. Mengingat Ahmad adalah pendatang.
“Ayo ikut aku.” Dia meraik tanganku dan mengajak duduk berdua di ruang tamu depan.
“Kenapa nangis? Cerita coba. Aku pengen denger.” Ucapnya lirih.

Seketika hidungku tersumbat, kepalaku pusing, dadaku sesak. Aku teringat lagi saat aku dan Ahmad pergi berdua ke salah satu tempat nongkrong di Desa sebelah. Dia bercerita banyak tentang kopi. Aku juga ingat ketika kami sama-sama mengantar bibit ke balai Desa. Kejadian-kejadian lucu tak henti-hentinya membuatku geli dan tertawa. Dia juga senang sekali bercerita tentang pengalamannya di atas gunung di sepanjang jalan menuju Salatiga.

“Aku, sudah mulai say …….” ucapku lirih menahan tangis dan sesak.
“Gimana? Coba ulangi lagi. Aku nggak dengar.” Dia semakin mendekat dengan sorot mata bening berkaca-kaca.
“Nggaaaak. Nggak apa-apa. Kamu jaga diri baik-baik. Makan tepat waktu, biar lambungnya nggak sakit. Kalau kamu sakit, aku nanti repot mengantar bubur ayam. Kan kamu tahu, aku nggak bisa naik motor.” Jawabku mengelak.
“Pasti aku jaga kesehatan. Kamu jangan suka bohong lagi.”

Aku berbohong karena aku takut, aku menganggapmu rumah sementara kau hanya menyuruhku singgah. Aku takut salah mengartikan dan takut menerima kenyataan bahwa satu-satunya orang yang kau bayangkan dalam setiap lirik lagu yang kau artikan adalah dia, yang selalu menyia-nyiakan. Aku takut kalau aku jujur, semua menjadi asing dan tidak menyenangkan.

Aku ini sakit Mad, namun aku tidak mau minum obat karena satu-satunya obat adalah melupakan. Aku berbohong jika suatu saat aku berani terus terang dan tidak memintamu memberi jawaban. Aku tetap manusia biasa Mad, yang selalu berharap kau perhatikan. Untuk saat ini, biarkan aku berpikir ulang, rasaku ini sekadar kagum atau benar-benar sayang.

“Ahmad, aku menyayangimu.” Ucapku lirih dan beranjak pergi.

pmii walisongo

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Next Post

PMII UIN Walisongo, Evaluasi 100 Hari Kerja Jokowi

Sab Feb 1 , 2020
PRESS RELEASE AKSI EVALUASI 100 HARI KINERJA JOKOWI PMII KOMISARIAT UIN WALISONGO SEMARANG Hidup Mahasiswa!!! Hidup Rakyat Indonesia!!! Salam Pergerakan!!! Pemerintahan Jokowi-Ma’ruf menjajaki periode ke-2 dalam kepemimpinannya. 28 Januari 2020 kemarin, tepat 100 hari mereka bekerja untuk Indonesia. 100 hari merupakan sebuah bentuk pengingat bagi kinerja kerja mereka saat ini. […]

Baca juga