Dampak Kencing Berdiri Bagi Kesehatan

Seiring berkembangnya zaman, berkembang pula toilet yang dibutuhkan manusia, karena toilet adalah salah satu fasilitas penting yang harus diperhatikan kelayakan dan keberadaanya, misalnya toilet berdiri atau biasa disebut dengan urinoir. Urinoir banyak digunakan di masjid, bandara, maupun terminal, bahkan kampus-kampus sudah banyak memakai urinoir. Urinoir sangat memudahkan bagi para penggunanya, karena hanya dengan membuka risleting celana maka sudah bisa menggunakan urinoir ini, sehingga secara otomatis jika menggunakan urinoir maka harus dengan berdiri, akan tetapi kecing dengan posisi duduk dapat menyebabkan masalah-masalah kesehatan terutama pada saluran kemih.

Buang air kecil atau berkemih biasa kita sebut kencing adalah proses pengosongan kandung kemih atau vesica urinaria, yang berfungsi untuk mengeluarkan sisa-sisa metabolisme dalam tubuh. Pada kehidupan sehari-hari, umumnya laki-laki buang air kecil dengan cara berdiri, sedangkan perempuan dengan jongkok atau duduk pada toilet duduk. Di lihat dari segi kesehatan dan agama masalah buang air kecil atau berkemih dipandang sangat menarik untuk ditelisik. Di Indonesia sebenarnya negara yang mayoritas penduduknya menggunakan toilet jongkok, namun seiring dengan modernitas, maka secara perlahan penggunaan toilet jongkok ini bergeser dan diganti dengan toilet duduk sehingga sangat mempengaruhi seseorang dalam buang air kecil atau berkemih.

Perlu diketahui bahwa kencing sambil duduk atau berdiri mampu mempengaruhi proses alami pembuangan kotoran dan dapat menyebabkan sembelit. Menurut sebuah penelitian yang dilakukan oleh seorang Dokter Rusia bernama Dov Sikirov di Digestive Diseases and Sciences dijelaskan bahwa ketika kita duduk, otot tidak bisa mempertahankan kontinuitas untuk mengeluarkan kotoran. Tubuh juga tidak bisa memberikan tekanan yang lebih untuk mengeluarkan kotoran. Tak selamanya modernitas membawa banyak keuntungan bagi manusia. Toilet duduk misalnya, hampir secara keseluruhan warga yang tinggal di Indonesia lebih akrab dengan toilet jongkok dibanding dengan toilet duduk, tapi dibalik hebatnya modernitas itu, toilet duduk menyimpan dampak negatif bagi kesehatan manusia.

Bahaya Kencing Berdiri

Sudah menjadi Kebiasaan turun temurun bagi pria kencing dengan posisi berdiri, hal itupun terbukti dengan banyaknya sarana urologi yang menggantung pada dinding-dinding fasilitas toilet umum seperti SPBU, Mall, Bandara, Stasiun dan tempat-tempat umum lainnya. Akan tetapi banyak penelitian yang beragam terkait kecing dengan posisi berdiri untuk pria.

Penelitian yang dilakukan oleh Leiden University Medical Center di Belanda menemukan fakta bahwa kencing dengan posisi berdiri dapat memicu berbagai macam penyakit di sekitar saluran kencing pria, penelitian itu menyarankan agar pria menghentikan kebiasaan kencing dengan posisi berdiri, sebagai gantinya dianjurkan untuk kencing dengan posisi jongkok.

Saat kencing dengan posisi berdiri, urine dapat menempel pada ubin urinal atau menjadi cipratan-cipratan kecil yang bisa menyebar di sekitar toilet. Bakteri dari urinal dapat berpindah ke orang lain dan menyebabkan infeksi di saluran kemih, terutama pada bagian bawah yang meliputi kandung kemih dan uretra.

Infeksi saluran kemih memiliki beberapa gejala yaitu; Pertama, nyeri atau perih saat buang air kecil. Kedua, rasa ingin buang air kecil yang terlalu sering dan tidak bisa ditahan. Ketiga, terdapat rasa tidak nyaman dan nyeri pada perut bagian bawah. Keempat  warna urin yang keruh dan terkadang air kencing bercampur darah. Kelima, badan terasa lelah dan tidak nyaman. Keenam, perasaan bahwa urin tidak keluar secara sempurna setelah selesai buang air kecil.

Manfaat Kencing Jongkok

Maka dari itu banyak dari peneliti menyarankan untuk kencing dengan posisi jongkok karena memiliki cukup banyak manfaat bagi pria yang sehat maupun yang memang sedang terkena infeksi saluran kemih, di antaranya kencing dengan posisi jongkok dapat mengosongkan kandung kemih bagi beberapa yang memiliki masalah dalam mengosongkan kandung kemihnya, ketika penderita gangguang saluran kemih bawah kencing dengan posisi berdiri, tubuhnya berusaha keras untuk memepertahankan tulang belakang yang tegak, posisi ini akan mengaktifkan banyak otot di dekat pinggul dan panggul.

Kondisi ini berbeda jika pengidang saluran kemih kencing dengan posisi jongkok. Kencing dengan posisi jongkok dapat membuat otot pinggul dan panggul menjadi lebih rileks sehingga membuat proses kencing menjadi lebih lancar dan mudah.

Selain itu kencing dengan posisi jongkok sama dengan ketika buang air besar. Kandungan kemih akan berada pada sudut yang tepat dan mendapatkan lebih banyak tekanan yang dibutuhkan agar semua air kencing bisa keluar dengan tanpa tersisa.

Dalam Islam pun, Rasulullah SAW lebih menyukai umatnya untuk kencing dengan posisi jongkok, tujuanya agar najis tidak menyebar dan terciprat kepakaian. Dalam hadits pun disebutkan Aisyah radiyallahu’anhu  berkata, “Siapa saja yang mengabarkan pada kalian bahwa Rasulullah Shalallahu alaihi wa sallam kencing dengan berdiri, Maka jangan percaya. (HR. Ahmad dan Ahlus Sunnah).

Menanggapi hadits tersebut, Ustadz Ahmad Anshori, Lc dalam laman konsultasisyariah mengatakan bahwa perkataan Aisyah tersebut dipahami bahwa yang sering dilakukan oleh Rasulullah shalallahu alaihi wa sallam ketika kencing adalah dengan posisi duduk.  Sehingga yang lebih utama adalah kencing dengan posisi duduk, disamping posisi duduk lebih aman dari tersebarnya najis juga lebih mudah menutupi aurat.

Berdasarkan paparan di atas, lebih baik menghindari  buang air kecil dengan posisi berdiri sebanyak mungkin, dari pada karena faktor usia, meskipun kenyataannya banyak tempat yang mengharuskan buang air kecil sambil berdiri. Ketersediaan urinal di berbagai fasilitas umum dan telah menjadi tren di toilet kontemporer adalah contohnya. Akan lebih baik lagi jika masih memungkinkan untuk buang air kecil dengan duduk untuk mencari toilet lain.

Daftar Pustaka

Arifin, Johar. Studi hadis-hadis tentang posisi kencing berdiri. Jurnal Ushuluddin,Vol. XX, No 2, Juli 2013.

Fakhrurrozi. Takhrij hadits kending berdiri. Jurnal Waraqat. Vol. II, No. 2, Januari-Juni 2017.

.

.

Oleh : Diva Fakih As Shkiy Thalib (Peserta Kelas Menulis LPW, Pengurus PMII Rayon Gus Dur)

PMII Walisongo

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Next Post

Warga Wadas dan Mahasiswa Semarang Melakukan Aksi di Gubernuran

Rab Mar 23 , 2022
Aksi unjuk rasa penolakan tambang di Wadas, Purworejo, dilakukan di Kantor Gubernur Jawa Tengah. Dalam aksi tersebut, Ganjar Pranowo seorang Gubernur Jateng mau turun dan menemui massa yang melakukan aksi. Koalisi yang mengikuti aksi tersebut meliputi koalisi mahasiswa di Semarang, terdiri dari beberapa kampus yaitu UNNES, UNDIP, UNIMUS, USM, Aliansi […]