Catatan Untuk Umat: Interpretasi Mawaidz KH. Hasyim Asy’ari

credit foto: hidayatuna.com

Muhammad N Luthfi Setiawan
(Alumni Pondok Pesantren Tebuireng Jombang dan Kru LPM Justisia)

Lumrah masyarakat Islam di Indonesia, terkhusus warga nahdliyyin, mengenal KH. Hasyim Asy’ari dari sosoknya sebagai pendiri organisasi masyarakat Islam terbesar, Nahdlatul Ulama. Pun, juga sebagai kyai karismatik yang memiliki andil besar dalam memperjuangkan kemerdekaan Indonesia. Setidaknya, atribusi yang disematkan kepada beliau masih luput dengan sejumlah karya-karya yang banyak dikaji di pondok pesantren.

Karya beliau menyisir dalam berbagai disiplin ilmu, dari persoalan akidah, tasawuf, fikih, muamalah, qanun asasi Nahdlatul Ulama hingga kitab dengan pembahasan counter dalam rangka mu’aradhah terhadap permasalah yang terjadi di era tersebut—layaknya kitab Ziyadat Ta’liqat a’la Mandzumah as-Syaikh ‘Abdullah bin Yasin al-Fasuruani.

Salah satu kitab KH. Hasyim Asy’ari yang membicarakan mengenai kemaslahatan umat Muslim (Indonesia) adalah kitab Mawaidz. Kitab tersebut memuat sejumlah catatan dan pepeling bagi masyarakat Islam dalam menjalani kehidupan sehari-sehari. Kitab Mawaidz secara garis besar menguraikan perpecahan umat yang disebabkan karena perbedaan pendapat dalam sekup furu’, bukan ushul.

Berdamai dengan Ikhtilaf

KH. Hasyim Asya’ari menerka bahwa penyakit umat di abad modern adalah sikap yang fanatik dengan ajaran yang dipegang, juga antikritik terhadap ajaran yang bukan berasal dari frekuensi pemahamannya (Asy’ari 2018, 1). Juga demikian (masih dalam pembahasan kitab) dengan kelakuan masyarakat zaman sekarang yang tidak segan mengubah isi dan pemahaman tentang makna kitab Allah dan Sunnah Rasullullah (Hadits).

Sikap seperti itu ditentang oleh Kyai Hasyim atas dasar formil yang tertera dalam sumber hukum Islam, di antaranya Al-Quran dan Hadist. Dalam Al-Quran, lengkapnya dalam Surat Al-Hujurat ayat 10 dengan terjemahan “Sesungguhnya orang-orang mukmin adalah bersaudara, karena itu damaikanlah antara kedua saudaramu.” Sedangkan orang zaman sekarang dominan dengan menjadikan antara sesama saudara seiman sebagai musuh, bukan memperbaiki justru merusak.

Atau misalnya dalam Hadist Nabi yang memiliki arti, “Janganlah saling iri dengki, saling membenci, saling membelakangi. Jadilah hamba Allah yang bersaudara.” Tampaknya, identitas muslim seperti yang digariskan dalam Hadist tersebut tidak terpatri dalam setiap diri umat manusia (muslim) di zaman sekarang.

Timbulnya rasa superioritas diri sendiri dalam menekuni dan mempraktikkan ajaran Islam serta mendiskreditkan ajaran Islam yang tidak senada dengan pemahamannya menjadi sentral munculnya sikap fanatik (Asy’ari 2018, 2). Kyai Hasyim tidak suka dengan sikap seseorang yang fanatik hanya dengan satu madzab saja, terlebih orang itu mengajak orang lain hanya untuk mengikuti ajaran (baca: madzab) satu, menafikan ajaran lain.

Kitab Mawaidz secara garis besar menentang perlakuan orang-orang yang fanatik buta sehingga memunculkan pertentangan dan perselisihan. Dalam istilah kitabnya disebut dengan taasub. Bukanlah sebuah kenikmatan terlebih keagungan bagi seorang yang berpegang pada ajaran Islam, justru sebuah penyakit yang secara tidak sadar mampu menginfeksi siapa saja, juga menjadi katalisator perpecahan.

Andai persoalan ini dibawa dalam konteks yang lebih luas, Kyai Hasyim sendiri sudah mewanti-wanti kepada umat muslimin, terkhusus warga nadhliyyin, untuk berpegang pada empat madzab, tidak hanya salah satunya. Secara rinci, penjelasan tersebut ditulis dalam kitab tersendiri, yaitu Risalah fi Ta’kid al-Akhdz bi Madzab al-A’immah al-Arba’ah (Risalah untuk memperkuat pegangan atas madzab empat).

Berpegang pada ajaran empat madzab adalah sebuah kemaslahatan yang besar. Sedangkan berpaling dari ajaran empat madzab adalah sebuah kerusakan. Setidaknya, kyai Hasyim menguraikan beberapa alasan pentingnya berpegang teguh pada empat madzab, yaitu (M. H. Asy’ari, n.d., 28-29);

Pertama, bahwa umat muslim sepakat untuk berpedoman pada ulama salaf dalam memahami dan mempraktikkan urusan syariat. Karena ihwal syariat tidak bisa digali kecuali melalui interpretasi dalil dan istinbath (metode menggali makna dari nash yang berkaitan dengan permasalahan pelik). Gambaran ini didasarkan pada tabi’in yang mengikuti sahabat, dan dilanjutkan dengan generasi-generasi selanjutnya hingga umat muslimin sekarang.

Kedua, karena ucapan Nabi yang artinya “Ikutilah al-sawad al-adzam.” Dalam beberapa literatur, definisi istilah itu tidak jauh berbeda dengan ‘Al-Jamaah,’ adalah mereka-mereka yang taat kepada Allah Swt., mengikuti Sunnah Rasulullah Saw., juga mengamini pemahaman para sahabat Nabi, baik jumlah mereka banyak atau sedikit. ‘Al-Jama’ah’ tidak memandang kuantitas. Kebenaran tetap kebenaran meski sendirian.

Oleh karena itu, terjun memahami dan mengamini ajaran yang benar dalam madzab empat (Hanafi, Maliki, Syafi’i, dan Ahmad) berati pula masuk dan mengikuti golongan al-sawad al-adzam. Yang perlu digarisbawahi, Kyai Hasyim menegaskan orang yang keluar dari pegangan empat madzab berati keluar dari golongan al-sawad al-adzam.

Ketiga, semakin jauh dan panjang masa berlalu, semakin banyak potensi praktik kesewenangan dan kesenjangan. Oleh karena realitas seperti itu, tegas dilarang untuk berkiblat kepada ulama su’ dengan atribusi ahli agama yang menyeleweng dan menerbitkan produk hukum menurut kehendaknya pribadi. Baik secara ucapan atau tindakan, ulama su’ ditakutkan berdiaspora terhadap masyarakat muslim sehingga mendominasi ulama-ulama khoir yang patuh terhadap agama dan memiliki sikap amanah.

Ketiga alasan itu yang menjadikan KH. Hasyim Asyari getol memproklamirkan pentingnya berpegang teguh kepada empat madzab dalam permasalahan furu’ (cabang). Karena urusan syariat sudah qoth’i, paten dan laten. Berbeda dengan permasalahan cabang yang bisa ditemui sehari-sehari, berbeda antara daerah satu dengan daerah lain.

Kembali ke kitab Mawaidz, pengarang kitab menganalogikan orang-orang yang hanya berselisih dalam urusan furu’ (cabang) seperti orang yang membangun istana tapi menghancurkan kota (H. Asy’ari 2018, 5) Andai perbedaan madzab itu masih dalam bingkai madzahib yang mu’tabaroh, maka tidak perlu bersikap kasar atau memaksa orang untuk seragam.

Karena kemenangan tergantung gotong royong dan persatuan, bersihnya hati, dan ikhlas menolong orang lain. Kemenangan yang terfragmen dalam kemaslahatan dan kesejahteraan dapat dirajut jika dipenuhi dengan sikap seseorang yang toleran dan tenggang rasa, bukan sikap fanatik dan antikritik. Citra seperti itulah yang diharapkan dalam nuansa al-sawad al-adzam.

Kepustakaan

Asy’ari, Hasyim. 2018. Mawaidz. Edited by Anwar Muhammad. Pasuruan: Maktabah Al-Mukarromah.

Asy’ari, Muhammad Hasyim. n.d. Risalah Fi Ta’kid Al-Akhdz Bi Madzab Al-A’immah Al-Arba’ah. Tebuireng: Maktabah Turats Al-Islami.

(Konten Kolaborasi nujateng.com bersama justisia.com dan pmiiwalisongo.com)

pmii walisongo

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Next Post

Shifr Putri Mubdil Fan; Cikal Bakal Madrasah Perempuan

Sen Apr 4 , 2022
Oleh: Fia Maulidia (Alumni Pondok Pesantren Tambakberas Jombang) Meski pesantren di Jawa telah eksis sejak era kolonialisme, namun pesantren yang membuka kelas dan menerima santri perempuan baru ada pada tahun 1919 M. Ialah Pondok Pesantren Mamba’ul Ma’arif Jombang yang saat itu dipimpiin oleh KH. Bisri Syansuri, kakek dari pihak ibu […]