Bucin Progresif

Ilustrasi. LPW

Tau Mengapa kau sebegitu ingin kuperjuangkan? Karena bersamamu aku mengerti arti Cinta dan Perlawanan.

Sebuah pesan yang dikirim Joni, sesaat sebelum ia mengikuti aksi dengan tagar besar #reformasidikorupsi. Pesan itu ditujukan pada Riana, kekasih hatinya yang belakangan seringkali ngambek saat Joni ikut turun ke jalan untuk menyuarakan hal-hal yang perlu disuarakan sebagai seorang mahasiswa atau setidak-tidaknya sebagai manusia yang mencoba untuk merdeka.

Bukan tanpa alasan Riana melarang Joni untuk ikut turun ke jalan, beberapa kali Joni harus berurusan dengan aparat, dipukuli, ditendang, hingga dibanting. Tidak jarang Joni babak belur sepulang aksi, karena ia selalu mencoba menyelamatkan orang-orang yang tertangkap oleh aparat, meski ia tak mengenal siapa orang tersebut.

Semasa kuliah, sejak mahasiswa baru Joni sangat aktif dalam gerakan, meski dari segi nilai akademik, ia tak pernah tertinggal dengan kawan-kawan di kelasnya. Joni juga aktif berorganisasi, ia bak macan yang selalu menunjukkan taringnya di mana-mana. Meski begitu, Riana tidak mencintai Joni atas berbagai pencapaian yang Joni peroleh. Riana mencintai Joni sedari awal mereka berjumpa di bangku kuliah, begitu pun Joni yang saat itu berusaha menarik perhatian Riana, sosok perempuan hebat yang bisa meluluhkan hati Joni.

Mau sampai kapan, Jon? Bukannya perlawananperlawananitu selalu saja sia-sia? Suara kita tak mau mereka dengar. Omong kosong soal demokrasi yang mati di tangan oligarki, aku tak tega melihatmu berkucuran darah seperti dulu lagi. Kau sudah cukup menelan itu semua, biarlah kini di balik layar saja. Bukankah dulu kau pernah bilang, bahwa perlawanan lewat media juga sangat berpengaruh?

Riana dengan sigap membalas pesan dari Joni, ia trauma saat Joni tiba-tiba dua orang massa aksi memapah tubuh Joni yang lemas tak berdaya ke sebuah mobil ambulance. Sampai saat ini, kasus tersebut belum terselesaikan dan hanya menjadi tumpukan kertas di arsip gedung pengadilan. Joni adalah orang yang keras kepala, meski tau bahwa resikonya sangat besar bahkan ia beberapa kali mengalami hal tersebut, tetap saja Joni bersikeras untuk ikut turun ke jalan bersama kawankawannya.

Ri, apa yang kurasakan dulu, tidak sebanding dengan penderitaan orang-orang kecil di luar sana. Mereka seumur hidupnya mengalami hal yang sulit, dan aku sebagai mahasiswa, atau setidak-tidaknya sebagai manusia, apakah harus diam dan duduk manis saja? Konsekuensi dari aku menggerakkan kawan-kawan, adalah aku harus ada di tengah-tengah mereka.

Sesudah mengirim pesan tersebut, Joni langsung berangkat mengendarai motor metic hitamnya. Ia harus bergegas karena sebentar lagi massa aksi akan berangkat dari depan gerbang kampus menuju ke kompleks kantor Gubernuran..

* * *

Hari semakin larut, Riana menunggu sebuah pesan dari Joni yang tak kunjung tiba di notifikasi HP-nya. Ia sudah menghubungi beberapa kawan Joni yang ikut aksi, akan tetapi hasilya nihil. Beberapa sumber mengatakan, Joni terakhir kali terlihat saat kondisi aksi mulai chaos. Boy melihat Joni merengsek maju ke barisan aparat karena melihat ada beberapa massa aksi yang sedang disiksa habis-habisan di barisan belakang.

Sejak saat itu, tidak ada satu pun orang yang mengetahui keberadaan Joni. Ketika Riana membaca rilis dari Lembaga Bantuan Hukum terkait nama-nama massa aksi yang tertangkap juga tidak ada nama Joni di dalamnya. Riana semakin panik dengan keadaan yang semakin memburuk. Sebenarnya ia tau bahwa ada beberapa oknum yang menghubungi dan mengancam Joni akibat dari tulisan-tulisannya yang sangat keras mengkritik pemerintah.

Sebenarnya Joni sudah diincar sejak dulu, beberapa kali Joni hendak ditabrak orang yang tak dikenal. Beruntung ia masih bisa menghindar dan lari dari ancaman itu. Riana tak pernah mendengar cerita itu dari Joni, justru beberapa kawan dari Joni yang memberitkan hal tersebut padanya. Tentu Joni tak ingin kekasihnya khawatir. Akhir-akhir ini, Joni lebih memilih merahasiakan hubungan, ia tak ingin Riana menjadi incaran orang-orang yang selama ini

menginginkan kematian Joni.

“Kawan-kawan dari berbagai kampus sedang mencari tahu keberadaan Joni, kamu yang sabar ya, Ri.” Boy berusaha menenangkan Riana yang sedari tadi terlihat sangat tertekan mendengar kabar kehilangan Joni.

“Bisa bayangkan, Boy? Bagaimana tertekannya aku. Hampir empat tahun membersamai Joni, dengan segalakecerobohannya. Aku sudah memintanya untuk tidak berangkat kali ini saja, karena firasatku benar-benar tidak enak.”

“Aku kenal dia sejak dulu, Ri. Bukan Joni Namanya kalo bisa diam saat melihat hal yang timpang di depannya.”

* * *

Pagi harinya, saat Riana pergi ke kost Joni yang pintunya terbuka, ia mendapati Joni di dalamnya dengan kondisi tidak sadarkan diri, banyak luka di sekujur tubuhnya. Riana langsung berteriak dan memeluk Joni, sehingga menjadikan penghuni kost yang lain dan tetangga sekitar langsung berbondong-bondong lari ke sumber suara.

Tak lama kemudia Joni dilarikan ke rumah sakit terdekat. Melihat kondisi yang demikian parah, Riana mulai ragu bisa bersama Joni sedikit lebih lama lagi. Ia terus memeluk Joni hingga sekujur tubuhnya penuh dengan darah Joni yang mulai mengering.

Sesampainya di rumah sakit, Joni langsung masuk ke IGD. Beberapa jam kemudian, Joni mulai tersadar. Ia langsung mendapati pelukan yang sangat erat dari Riana.

“Jon, kamu kemana aja? Kamu udah janji kan, kalo semua bakal baik-baik saja?” Riana langsung menyambut Joni dengan pertanyaan bertubi-tubi, seraya menangis di dadanya.

Joni masih terdiam, ia berusaha mengingat-ingat apa yang terjadi saat di seret ke dalam barisan aparat, lalu sebuah tongkat tumpul mengarah dengan keras ke kepalanya. Sejak saat itu ia tak tau berapa pukulan dan tendangan yang menimpa tubuhnya.

“Aku gak papa kok, Ri. Lihat, aku masih bisa tersenyum kan? Itu tandanya aku baik-baik saja. Kalaupun sebentar lagi kamu akan melihat air mataku terjatuh, adalah karena membuatmu bersedih hingga menangis. Bukan karena luka-luka ini, Ri, sebentar lagi aku pulih kok.”

Joni mengacak-acak rambut Riana seperti biasanya. Riana semakin erat memeluk tubuh Joni, pemandangan mengharukan itu harus membuat kawan-kawan Joni harus keluar dari ruangan untuk memberi waktu kepada sepasang kekasih tersebut.

“Tau mengapa aku sering memintamu untuk makan tepat waktu, Ri?”

Riana tak menjawab pertanyaan itu, ia sangat mengerti bahwa pertanyaan itu bukan untuk dijawab.

“Dulu aku hidup di jalanan, Ri. Aku sering melihat banyak orang-orang yang berjuang siang-malam demi sesuap nasi. Sedangkan kita, untuk makan bukan hal yang sulit, maka kita harus mensyukuri setiap anugerah yang ada. Saat kita sudah selesai makan dan tak lagi merasakan lapar, jangan lupa untuk memikirkan saudara-saudara kita yang kelaparan di luar sana, ya.” Joni berbicara Panjang lebar meski keadaannya masih sangat buruk.”

“Kamu itu manusia bodoh sebenarnya, tapi kenapa aku cinta banget ke kamu ya? Kondisimu lagi kaya gini, masih sempatnya meracau.” Riana mempererat pelukannya,

“Aku memang bodoh, sering memintamu untuk mandi, padahal aku sendiri malas mandi. Kamu tau kenapa? Karena banyak orang di luar sana yang sulit mendapat akses air bersih. Banyak pengrusakan lingkungan yang menyebabkan banyak titik kekurangan resapan air, sehingga air meluap menenggelamkan orang-orang yang tak bersalah, maka bersyukurlah.”

Saat Riana hendak menanggapi, Joni langsung berbicara duluan.

“Satu lagi, kamu sering ngingetin aku salat kan? Aku selalu teringat ucapan Cak Munir, bahwa manifestasi dari salatku adalah aku harus berani berpihak pada orang-orang lemah dan tertindas. Jadi, jangan salahkan aku ketika aku terus maju dan melawan, karena itu instruksi ayang,kan?”

Joni berbicara setengah tertawa, meski beberapa kali terlihat ia meringis kesakitan. Beberapa saat setelahnya, Joni kembali memegangi kepalanya dan berteriak kesakitan. Dalam waktu singkat kondisi kembali panik, Riana keluar ruangan untuk memanggil dokter.

Sebenarnya Joni tidak merasakan sakit yang amat sangat, ia mendapat pesan dari seseorang yang mengatakan bahwa sebentar lagi akan mengirim orang yang menuju ke tempatnya, Joni khawatir dengan keselamatan Riana, sehingga ia berakting agar riana segera keluar dari ruangan.

Bagi orang-orang di lingkup kekuasaan bisa dengan mudahnya menculik masyarakat biasa di mana pun dan dalam kondisi apa pun. Apalagi status Joni di mata mereka sudah sangat merah. Saat mendengar suara sepatu boots mendekat ke arahnya, Joni mengambil kertas yang ada di bungkus obat lalu menuliskan beberapa kalimat di kertas tersebut.

* * *

Sekembalinya Riana ke ruangan, ia sudah kehilangan kekasihnya. Namun, ada selembar kertas yang terselip di bawah bantal yang dipakai Joni. Riana membuka pesan itu seraya menangis, ia tak kuasa menahan kesedihan apabila tulisan yang ada di pesan itu benar-benar terjadi. Riana faham betul kisah-kisah aktivis yang hilang, dibunuh atau diracun. Mungkin saja Joni akan kembali ke pelukannya, mungkin juga tidak. Selembar kertas itu bertuliskan:

Biarlah aku bergerak dan melawan atas nama cinta, agar ketika aku menghilang atau dihilangkan, cintaku masih ada untuk alam semesta.

.

.

Oleh: Muhamad Syafiq Yunensa (Dalam Buku Joni Melawan Arus)

PMII Walisongo

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Next Post

Antara NDP & Persoalan Ekologis

Kam Agu 18 , 2022
Organisasi merupakan tempat untuk menuangkan berbagai ide, gagasan, serta sebuah inovasi untuk mewujudkan tujuan yang ingin dicapai. Adanya organisasi membuat cita-cita pemuda dapat tetap terjaga. Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) adalah salah satu organisasi ekstra kampus sebagai wadah bagi para pemikir dan pembaharu perjuangan bangsa dan agama. Pergerakan Mahasiswa Islam […]

Baca juga