Berproses

Sederhananya, hidup adalah sejarah dan orang-orang harus menuliskan hidupnya masing-masing dengan caranya sendiri. Setiap orang pasti bisa menulis, meski tidak semua tulisan bisa atau layak dibaca, begitupun sejarah setiap manusia.

Setiap orang memiliki proses yang berbeda, karena setiap orang memilih hal yang tak semuanya sama. Proses adalah pilihan, kita bisa memilih untuk menjalankan atau berproses menjadi seperti apa yang kita inginkan. Tapi berproses itu sendiri merupakan hal yang tak bisa kita hindari sebagai manusia. Sejak kecil kita bertumbuh dan berkembang yang merupakan bagian dari proses menjadi manusia yang sejati.

Setiap hari yang kita lalui adalah lembaran baru dan kesempatan baru untuk terus berproses menjadi lebih baik. Untuk mengalami proses ini, tentu kita harus mencoba meniti jalan yang berbeda, keluar dari zona nyaman dan terus belajar. Bergaul dan berkumpul dengan komunitas baru yang positif juga menjadi salah satu cara untuk menjadi orang yang lebih baik.

Terus-menerus berproses akan buat kita mengetahui banyak ilmu baru yang sebelumnya belum pernah kita pelajari. Ketika ada sesuatu baru yang dirasa akan memberikan manfaat baik secara ilmu pengetahuan, maupun dari segi finansial, atau bahkan berupa pencapaian diri, orang yang terus berproses tak akan mau ketinggalan untuk mempelajarinya.

Keuntungan berikutnya yang bisa kita peroleh dari terus berproses adalah kemampuan untuk beradaptasi dan menyesuaikan diri. Saat kita tidak menutup diri dari berbagai kemungkinan yang ada dan terus mengembangkan diri tanpa henti, maka bisa dipastikan kita bisa fit in dalam berbagai komunitas. Alhasil, jaringan pertemanan pun akan berkembang dan wawasan pun akan semakin terbuka luas.

Terus berproses juga membuat kita lebih bisa mengenal diri sendiri dan tahu potensi apa yang kita miliki. Dengan begitu, lebih mudah bagi kita untuk meningkatkan potensi yang ada. Potensi yang terus ditingkatkan tentunya akan membawa kita pada hasil yang memuaskan.

Maka jangan pernah lelah untuk berproses walau proses kita terasa begitu lambat, bukannya terlambat lebih baik daripada tidak sama sekali?

Seringkali kita enggan memulai dari awal lagi karena berfikir semua sudah terlanjur, dan kita tidak bisa berada di titik yang sama atau bahkan melebihi orang lain yang memang sudah “Wah”. Hal tersebut terus terjadi karena indikator kesuksesan kita adalah orang lain. Padahal garis start orang-orang dalam berproses itu tidak semuanya sama, terkadang harta dan relasi orang tua membuat mereka yang beruntung lebih cepat meraih kesuksesan, sayangnya kita hanya terpaut pada hasilnya dan melupakan proses.

Aku pernah pada titik di mana merasa sangat tertinggal, saat masih duduk di bangku Sekolah Menengah Atas, tepatnya di usia 17 tahun menjelang kelulusan. Di sekolah aku termasuk siswa paling nakal dengan nilai paling rendah. Saat itu aku benar-benar dipandang sebelah mata oleh guru maupun kawan sekelasku. Banyak yang berkata bahwa anak nakal tidak bisa sukses dan ilmunya tidak barokah.

Mendapati perlakuan yang sering tidak enak, aku mulai berfikir apakah indikator keberhasilan adalah sekolah? Apakah saat nilaiku tinggi bisa menjamin kesuksesanku nanti? Apakah saat aku melanggar peraturan konyol di sekolah dan dicap sebagai anak nakal menjadikan masa depanku suram? Dari semua yang aku renungkan, sampailah pada titik di mana aku harus buat jalanku sendiri dan berproses dengan caraku sendiri!

Saat mereka bicara tentang nilai dan prestasi akademik, aku ingin berusaha melakukan yang lebih dari pada itu. Dalam hati aku berkata “Biarlah kalian menguasai segala ilmu di bangku-bangku, sekolahku tak sesempit itu”. Ucapan itu tidak sekedar karena aku benci diperlakukan berbeda, tapi lebih pada tekadku untuk membuktikan bahwa setiap manusia mempunyai potensi besar meskipun dia anak nakal maupun kriminal.

Pada akhirnya aku membuat jalanku sendiri sebagai seorang Punk, Pelajar, dan Santri. Aku mengklaim diriku sebagai siswa di sekolah Alam Raya, belajar kapan pun, di mana pun, dan pada siapa pun. Seringkali aku pergi ke jalanan untuk berusaha memaknai kehidupan di dalamnya, merangkum ilmu dari apa yang kulihat, kudengar, dan kurasakan.

Hingga aku memilih menulis sebuah novel berjudul “Berandal Bermoral” yang merupakan cerminan diriku dan proses hidupku menjadi manusia merdeka. Saat duduk di bangku kuliah, aku juga memutuskan untuk berproses di belasan hingga puluhan organisasi, komunitas, maupun lembaga. Saat semester 4 memunculkan buku “Joni Melawan Arus”, menjelang akhir semester 6 “Catatan Sang Berandal” lahir dan membuat banyak perubahan dalam hidupku.

Novel itu mendapat label Best Seller dari Penerbit Pustaka Rumah Aloy pada cetakan ke-4, dan pada cetakan yang ke-5 novel tersebut menjadi pengganti skripsiku, aku bisa lulus 3,5 tahun dengan IPK yang cukup tinggi. Bukan tanpa alasan mengapa pihak fakultas meminta novel tersebut menjadi tugas akhir. Seringkali novel tersebut di bedah di berbagai tempat dan mendapat sambutan baik dari berbagai pihak. Beberapa bulan setelah itu, buku “Mengapa Kita Rajin Berjalan di Tempat” juga terbit saat pertama kali aku duduk di bangku S2, di usia yang masih 20 tahun.

Lagi-lagi, proses setiap orang itu berbeda. Satu hal terpenting adalah mengetahui jati diri kita, karena ada potensi tak terbatas pada gunung-gunung, samudra, angkasa, alam raya, serta pada seseorang yang mengetahui jati dirinya. Terbentur, terbentur, terbentur, terbentuk, adalah bagi mereka yang tahu siapa dirinya. Bagi yang tidak tahu, hanya akan dibenturkan, dibenturkan, dibenturkan, dan hancur.

.

.

.

Muhamad Syafiq Yunensa, dalam buku Mengapa Kita Rajin Berjalan di Tempat?

pmii walisongo

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Next Post

Indonesia Darurat HAM: Hujan Pelanggaran HAM yang Tak Berkesudahan

Rab Mar 2 , 2022
Oleh: M. Shodiq Al-Hakim Penegakan supremasi hukum dan Hak Asasi Manusia (HAM) tampaknya masih menjadi pekerjaan rumah terberat yang harus diselesaikan Indonesia sejak republik ini berdiri pada 17 Agustus 1945. Menilik 22 tahun ke belakang saja, terdapat sejumlah catatan hitam dalam ranah hukum dan HAM. Amanah gerakan Reformasi 1998 terkait […]