Antara NDP & Persoalan Ekologis

Organisasi merupakan tempat untuk menuangkan berbagai ide, gagasan, serta sebuah inovasi untuk mewujudkan tujuan yang ingin dicapai. Adanya organisasi membuat cita-cita pemuda dapat tetap terjaga. Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) adalah salah satu organisasi ekstra kampus sebagai wadah bagi para pemikir dan pembaharu perjuangan bangsa dan agama. Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia tentunya mempunyau suatu landasan berfikir dalam perjuangan pergerakan sebagai rujukan dari setiap tindakan yang akan dilakukan. Nilai Dasar Pergerakan (NDP) adalah nilai spiritual Islam serta semangat nasionalisme dengan kerangka konseptual yang bersumber dari pemahaman Ahlussunnah wal Jama’ah. NDP berpijak pada empat pilar yang terdiri dari: tauhid, hablum minallah, hablum minannas, dan hablum minal ‘alam. Pada implementasinya, yaitu sebagai nafas umat Islam untuk sampai di jalan Allah disebut hablum minallah, hubungan antar manusia yaitu hablum minannas, serta manusia dengan lingkungan disebut dengan hablum minal ‘alam. Sehingga dapat diartikan sebagai kader dan aktivis Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia, wajib mengaktualisasikan nilai-nilai dasar tersebut, baik secara pribadi maupun bersama-sama dalam organisasi. Dari empat nilai dasar gerakan, satu nilai mengajarkan hubungan antara manusia dengan alam semesta, sebagaimana firman Allah dalam surat Al-Baqarah ayat 30 yang artinya, “Sungguh, Aku akan menjadikan bumi sebagai otoritas yang berurutan.” (QS Al-Baqarah (2): 30).

Dalam tafsir Ibn Katsir dijelaskan bahwa, sesungguhnya Allah menciptakan manusia sebagai pemimpin dan pemelihara di muka bumi yang tugasnya memelihara dan melestarikan bumi, serta menghindarkannya dari kerusakan. Sesuai dengan ekotheologi (teologi lingkungan) yaitu ilmu yang membahas tentang keterkaitan antara pandangan teologis-filosofis yang terkandung dalam ajaran agama dengan alam atau lingkungan. Dalam konteks ini, teologi tidak hanya mementingkan aspek ketuhanan, tetapi juga dimensi ekologis. Para aktivis pergerakan, terutama PMII seharusnya bisa bertanggung jawab atas adanya persoalan ekologi ini.

Zaman yang semakin berkembang membuat kebutuhan juga semakin kompleks, sehingga memicu adanya masalah-masalah terkait ekologis yang sulit dihindari. Indonesia, di negara kita sendiri, banyak isu lingkungan yang perlu diperhatikan dan sudah seharusnya hal ini bisa menjadi bahan kajian tidak hanya bagi aktivis lingkungan saja, tetapi juga aktivis lain seperti PMII. Persoalan lingkungan yang sudah banyak terjadi di Indonesia seperti penambangan liar, perusakan hutan, penebangan hutan secara illegal, dan berbagai perusakan yang diakibatkan oleh ulah manusia lainnya merupakan suatu tugas yang cukup besar bagi sebuah organisasi. Hal ini mengingat adanya NDP yang menjadi landasan bagi PMII sudah sangat tidak diragukan bahwa aktivis PMII harus bisa memelihara dan menjaga hubungan antara manusia dan lingkungannya. Permasalahan lingkungan menjadi penting karena kualitas lingkungan akan mempengaruhi kualitas hidup manusia secara langsung. Selain itu, kualitas lingkungan juga akan mempengaruhi kualitas hidup manusia di masa mendatang.

Dilansir dari laman resmi Greenpeace Indonesia, dijelaskan beberapa permasalahan lingkungan yang terjadi di Indonesia, seperti penuruan kualitas dan rusaknya terumbu karang, sampah plastik, polusi udara, dan deforestasi. Deforestasi juga menjadi permasalahan lingkungan utama di Indonesia. Menurut Forest Watch Indonesia, selama tahun 2000 sampai 2017, tercatat Indonesia telah kehilangan hutan alam lebih dari 23 juta hektar atau setara dengan 75 kali luas provinsi Yogyakarta. Bahkan, menurut World Resources Institute, pada tahun 2019 Indonesia menempati posisi ketiga sebagai negara yang paling banyak kehilangan hutan hujan primer akibat deforestasi, yaitu sebanyak 324 ribu hektar. Konversi hutan menjadi perkebunan kelapa sawit dan pertambangan serta kebakaran hutan, diindikasikan masih menjadi penyebab utama terjadinya deforestasi di Indonesia. Deforestasi menjadi masalah penting karena hutan merupakan tempat penyimpanan dan daur ulang karbondioksida yang cukup besar. Lebih dari 300 miliar ton karbondioksida tersimpan di dalam hutan. Akibat deforestasi, karbondioksida tersebut akan terlepas ke atmosfer sehingga akan mempercepat perubahan iklim.

Artinya dari berbagai isu lingkungan yang ada di Indoneisa, sepatutnya para aktivis Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) menata ulang dan mendiskusikan kembali bahwa persoalan ekologis juga bagian dari jalan jihad kita sebagai aktivis, apa lagi melihat Nilai Dasar Pergerakan (NDP) yang di dalamnya terpatri jelas adanya keterikatan antara manusia dengan lingkungannya. Setidaknya, hal ini memberikan pandangan baru bagi para aktivis di seluruh Indonesia untuk mendorong kesadaran dan pemahaman tentang pentingnya menjaga kelestarian lingkungan. Permasalahan ekologi tentunya berbeda dengan permasalahan non-ekologi, sehingga banyak yang menganggap persoalan ekologis hanyalah persoalan alam biasa, padahal persoalan ekologis sangatlah penting dan perlu dikaji lebih dalam. Respon dan tanggung jawab manusia dalam menanggulangi persoalan ekologis yang menentukan jalannya ekosistem dan keberlangsungan lingkungan di masa mendatang. Dalam persoalan ekologis, layaknya mata rantai yang tidak bisa dipisahkan, begitulah hubungan antara manusia dengan alam semestanya. Adanya ketidakseimbangan alam akan berdampak pula pada kesejahateraan manusia, hal ini dibuktikan pada tahun 1980-an banyak aktivis serta peneliti mulai fokus pada persoalan ekologis.

Lalu, bagaimana dengan kader dan aktivis pergerakan di masa sekarang? Apakah aktivis PMII yang mempunyai NDP saat ini sudah memfokuskan diri pada masalah ekologi? Inilah yang menjadi pekerjaan rumah kita sebagai kader dan aktivis pergerakan. Saat ini dibutuhkan kader PMII yang bisa menjadi agen perubahan dalam persoalan ekologis. Selain penyebab di atas, Husain Heriyanto juga menyatakan bahwa dunia saat ini berada pada kondisi yang mengkhawatirkan, karena di seluruh planet ini sumber alam dijarah kelewat batasnya, bahkan setiap detik, sekitar 200 ton karbondioksida dilepas ke atmosfer dan 750 ton top soil musnah. Sementara itu, diperkirakan sekitar 47.000 hektar hutan dibabat, 16.000 hektar tanah digunduli, dan antara 100 hingga 300 spesies mati setiap hari. Pada waktu yang sama pula, jumlah penduduk meningkat 1 milyar orang per dekade. Hal ini menambah beban bumi semakin rentan, seperti dua dekade terakhir ini manusia mengalami krisis kesadaran terhadap persoalan ekologi, karena hal ini menyangkut kelangsungan hidup jagad keseluruhan.

Peran penting dari aktivis PMII sangatlah diperlukan untuk menjaga keutuhan dan kestabilan lingkungan, apalagi karena dalam NDP sudah jelas tertuang relasi antara manusia dengan alam. Jika hal ini dibiarkan maka manusia di muka bumi ini tinggal menunggu masanya, dimana saat ini sudah tampak jelas indikasi dari kerusakan ekologi yang dilakukan oleh manusia, seperti polusi, pemanasan global, hujan asam, banjir, gizi buruk, dan perkembangan virus yang semakin akut. Krisis ekologis memerlukan perhatian besar dari manusia tanpa terkecuali, jika para aktivis PMII dulu dihadapkan dengan kondisi sosial dan tuntutan zaman untuk berpolitik dan mengatur strategi gerakan yang bersifat politis, maka saat ini isu ekologis menjadi tantangan baru dan sangat penting dimasukkan dalam agenda besar untuk dikaji dan didiskusikan secara lebih mendalam guna memupuk kader dan aktivis yang berjiwa ekologis. Oleh sebab itu, sebagai umat Islam sekaligus kader pergerakan yang selalu menjunjung tinggi NDP dengan bermanhaj pada Ahlussunnah wal Jama’ah, hendaklah kita menyadari dan sudah sepatutnya menjadi contoh dalam menjaga, merawat, serta melestarikan keutuhan bumi sebagai sumber dari kehidupan yang diberikan Allah kepada kita. Ketika lingkungan tumbuh dan berkembang dengan baik, maka ia akan memberikan nilai kebaikan pula bagi kehidupan manusia. Sebaliknya, ketika ritme lingkungan mengalami ketidakseimbangan, maka ia akan mengganggu sistem keseimbangan kehidupan juga. Tidak hanya dalam kehidupan mahluk hidup saja, tetapi juga seluruh ruang lingkup kehidupan itu sendiri. Hal ini sejalan dengan teori para filosof seperti al-Farabi, Ibn Sina, Khawajah Nasrudin at-Thu si, yang meyakini adanya sebuah doktrin kausalitas dan menganggap semua fenomena di alam semesta merupakan akibat dari serangkaian sebab-akibat. Dengan kata lain, bencana-bencana ekologi yang terjadi di bumi ini berkorelasi erat dengan tindak-tanduk tingkah laku manusia sebagai makhluk bumi.

Seperti halnya hasil penelitian tahun 2011, hilangnya keanekaragaman hayati dengan kepunahan massal adalah suatu peristiwa yang mungkin kita hadapi jika kecenderungan degradasi lingkungan terus terjadi. Diperkirakan enam puluh persen (60%) dari ekosistem dunia mengalami degradasi, tiga belas juta hektar hutan tropis hilang setiap tahunnya. Sedangkan Secretary General Executive Director UNEP, 2014, melaporakan hasil penelitiannya bahwa setiap tiga detik waktu berjalan, hutan seluas ± 1 hektar hilang dari permukaan bumi10. Rata-rata total hutan yang hilang setiap tahunnya ±13 juta hektar. Dengan nilai ekonomi jasa ekosistem hutan tropis diperkirakan USD 6.120 per are. Hal ini merupakan angka yang mengejutkan pada berbagai tingkatan. Bayangkan jika hal ini selalu dibiarkan oleh kita sebagai generasi bangsa, bagaimana kondisi bumi pada masa mendatang. Dapat diartikan bahwa kondisi ekologis saat ini sebagai bagian penting dari penilaian, karena dapat menentukan kapasitas suatu ekosistem untuk menghasilkan layanan. Penurunan keanekaragaman hayati merupakan kerugian besar bagi planet ini dan mengancam sistem pendukung kehidupan manusia di permukaan bumi. Padahal alam memberikan segalanya secara gratis untuk keberlangusngan hidup manusia di bumi serta lingkungan kita sebagai sumber pemberi manfaat yang selalu tersedia. Jika hal ini terjadi akibat ketidakpekaan aktivis Pergerakan Mahasiswa Islam Indoensia dalam penanganan ekologi yang terjadi pada bangsa ini, maka yang akan terjadi adalah risk society. Risk society merupakan suatu istilah yang menunjukkan bahwa terjadi perubahan ke kondisi-kondisi baru dalam kehidupan manusia saat ini. sehingga, sebagai kader dan aktivis PMII harus sadar akan ketidakmenentuan dan resiko yang sewaktu-waktu dapat mengancam.

.

.

Oleh: Agustin Fajariah Asih(Kader PMII Rayon Gus Dur, Alumni Kelas Menulis & Kelas Editor LPW)

PMII Walisongo

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Next Post

Potret Usang tentang Kita

Sab Agu 20 , 2022
Oleh: Fera Rahmawati Kau tau, ternyata sebuah kata bernama rindu bisa mengubah kita menjadi pribadi yang berbanding terbalik. ya, contohnya aku. Dengar!  Biasanya aku akan bersikap masa bodoh, tapi sekarang aku mendapati pantulan diriku tengah merengut, kadang juga mencibir dari balik meja kaca. Kedua sikuku berusaha menopang kepalaku yang sudah […]