Aksara Sebagai Kunci Ekskavasi Literatur Nusantara

Oleh : M. Taufiqurrohman 
Pernahkah kita berfikir bagaimana asal muasal kue kacang, hingga rengginang dalam toples khong ghuan. Bukankah semua yang terjadi hari ini adalah proses yang terjadi dari nenek moyang kita. Namun fokus kita bukan terkait hal itu yang akan kita bahas kali ini, tapi terkait jawa itu kaya akan suatu kebudayaan maupun tradisi.


Sudah tidak asing bagi orang jawa mengenai adanya aksara jawa. Jika boleh berpendapat sejarah perkembangan budaya manusia, kepemilikan aksara dan kemampuan menulis aksara memegang peranan yang amat penting. Sebab lewat kegiatan tulis menulis, ilmu pengetahuan/budaya manusia dapat dilanjutkan dari satu generasi ke generasi berikutnya. Aksara jawa sendiri begitu memiliki peranan penting dalam pengungkapan-pengungkapan sejarah serta budaya yang ada di nusantara ini.


Aksara bagi saya sangatlah menarik karena merupakan bukti budaya literasi yang di miliki oleh nenek moyang kita sebagai pendahulu. Aktivitas tulis menulis ini merupakan salah satu bentuk usaha dokumentasi yang paling sederhana dan efektif, walaupun tidak sesederhana dalam proses pembuatannya. Terbukti, meski informasi atau ilmu pengetahuan yang tertulis telah berusia ratusan tahun, namun masih dapat dimanfaatkan dan dipelajari hingga saat ini.


Aksara jawa dahulu di tulis sebagai upaya dokumentasi sejarah ini dengan berbagai macam bentuk dan media, dalam hal ini bisa di katakan sebagai sebuah manuskrip. Keberadaan manuskrip ini sebagai salah satu warisan kebudayaan, secara nyata memberikan bukti catatan tentang kebudayaan kita masa lalu. Naskah-naskah tersebut menjadi semacam potret jaman yang menjelaskan berbagai hal tentang masa itu, dengan demikian nilainya sangat penting dan strategis.


Tak pantas kiranya ketika membahas mengenai aksara ini tanpa kita mengetahui awal mula kemunculan aksara ini sendiri. Dalam sebuah forum yang pernah saya ikuti, Diaz nawaksara mengatakan bahwa munculnya aksara di nusantara ini berawal pada abad ke 4, beliau mendasari ini berangkat dari temuan 7 buah yupa yang beraksara pallawa. Aksara pallawa ini  bercorak hindu-budha karena aksara ini berasal dari india. Aksara ini pula yang kemudian menjadi embrio dari munculnya berbagai macam aksara yang ada di nusantara ini, termasuk aksara jawa sendiri.


Secara umum penggunaan aksara di nusantara di gunakan dalam menulis prasasti dan satra, di mana dalam penulisannya menggunakan berbagai macam media. Media yang di gunakan dalam penulisan ini biasannya lontar, nipah, kulit kayu,daluang, bambu, tulang, sampai daluang. Terkait isi yang terkandung dalam naskah-naskah kuno ini sendiri berisi tentang, agama, mistik, pengobatan, pendidikan, pelajaran, sejarah, dan dongeng. 


Jika melihat aksara yang termuat dalam sebuah naskah kuno kita sendiri bisa mengambil begitu banyak pengetahuan dari itu semuanya. Selain sebuah pengetahuan dalam sebuah naskah kuno pula kita dapat mengkaji kodikologi, filologi, paleografi, grafologi, linguistik, dan tipografi. Sedikit menyinggung mengenai sebuah naskah kuno kitab negara kertagama misalnya, isi dari naskah ini sendiri bukan hanya mengenai hukum saja melainkan juga mengenai ajaran agama. Dari sini saja kita bisa melihat bahwa naskah kuno memanglah memiliki begitu banyak hal yang perlu kiranya kita ketahui. 


Dari semua paparan di atas naskah kuno yang dalam pencatatannya menggunakan aksara ibarat sebuah gudang misteri dan bisa kita simpulkan bahwa aksara adalah kunci untuk mengetahui isi dari sebuah naskah. Jika bangsa ini tidak mau mempelajari peninggalan-peninggalan sejarahnya sendiri lantas siapa lagi yang akan mempelajarinya. Bukan untuk berbangga hati ketika mengetahui sejarah bangsa ini namun ibarat kaca spion yang kita pakai sebagai panduan dalam perjalanan hidup kita dalam berbangsa maupun bernegara. Untuk itu saya kira penting bagi generasi milenial maupun generasi Z untuk tetap mempelajari sebuah naskah kuno agar dalam perjalanan hidupnya tidak mudah untuk terpengaruh oleh hegemoni dari bangsa lain.

pmii walisongo

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Next Post

Kak Seto Dukung JPA Mendesak Pelaku Divonis Hukuman Berat

Rab Jun 1 , 2022
pmiiwalisongo.com, Semarang–Jaringan Perlindungan Anak Kota Semarang yang terdiri dari LRC KJHAM, Lembaga Advokasi Komisariat Walisongo (LAKW), KOPRI Komisariat UIN Walisongo Semarang, Rumah Perempuan dan Anak (RPA), Posko pengaduan kekerasan seksual Nasdem Jateng, PPT Seruni, DPRD Kota Semarang, DPRD Provinsi Jateng, DPR RI dan Fatayat PWNU Jateng mendesak kepada Kepala Pengadilan […]