Agama, Kuasa, dan Perlawanan

Oleh: M. Taufiqurrahman

Sering kita lihat agama dalam kehidupan masyarakat sehari-hari menjadi salah satu aspek fundamental, tradisi dogmatis atas agama tidak jarang mengalahkan segala konsepsi rasionalitas atas dasar iman. Dalam konteks sosial, agama bisa diperankan menjadi dua hal. Pertama, agama dalam konteks profetik untuk melakukan gerakan-gerakan progresif dalam rangka memperjuangkan cita-cita ideal. Kedua, agama sebagai legitimasi untuk menerima dan mempertahankan suatu status quo.

Sejarah dunia tentunya tidak lupa dengan berbagai peristiwa besar berabad-abad, agama di adikan alat untuk menggerakan perang besar ‘perang salib’. Disadari atau tidak agama memiliki sisi-sisi ekslusif untuk saling berbenturan, sehingga wajar bila tesis yang dikemukakan Samuel P. Huntington tentang Class of Civilization menempatkan terjadinya pergolakan global akan dasar  agama dan budaya, antara Barat, Islam dan China. Kosekuensi dogmatisme ini hingga sekarang di beberapa negara muncul dalam wujud dua mata koin prspektif, yakni “terorisme” menurut Barat dan “jihad / perlawanan” menurut Islam. Lantas hal ini memunculkan satu pertanyaan yang mungkin akan selalu menjadi pertanyaan di setiap zamannya. Lantas bagaimana Islam menjalankan perannya dalam melakukan suatu gerakan-gerakan progresif seperti yang sudah disinggung di atas?

Agama dan Semangat Pembebasan

Dalam surat Al Hujurat ayat 13 yang artinya  “Sesungguhnya yang mulia di antara kalian di sisi Allah adalah mereka yang paling bertaqwa diantara kamu”. Melihat ayat ini menunjukan bahwa Islam juga memiliki dogma-dogma yang profetis, di antaranya adalah dogma tentang pembebasan. Melihat ayat ini, konsekuensi yang dilakukan oleh Nabi Muhammad dalam dakwahnya menyebarkan agama Islam adalah memangkas semua perbedaan atas dasar materi (harta-kekayaan, Nasab ‘keturunan’, dan jabatan). Kalau boleh meminjam perkataan Marx apa yang dilakukan oleh Nabi Muhammad yang tercermin dalam ayat ini adalah instruksi pada “penghapusan kelas” dalam masyarakat di dunia dengan menegasikan semua yang materi dan membangun perspektif baru yang imateri, dan tidak pernah bisa dinilai oleh manusia.

Begitu pula dalam surat Al-Ma’un sangat keras mengutuk orang-orang yang tidak mau memelihara anak yatim dan memberi makan orang-orang miskin. Melihat hal tersebut, tentunya tradisi akan semangat pembebasan sangatlah melekat pada Agama Islam sendiri, begitu juga pada berbagai agama lain. Nasrani misalnya mengajarkan cinta kasih pada semua umat manusia sebagai mana misi ruhullah Isa ibnu Maryam, dalam perjalanan hidupnya. Di dalam Budha pun tradisi samsara menjadi acuan persamaan manusia dengan seluruh semesta raya, di mana manusia rela berkorban demi kepentingan dan kesejahteraan seluruh alam, budha menjadi anti tesis kasta-kasta dalam kehidupan.

Kuasa, Agama dan Perlawanan

Dalam berbagai realita sosial, ekonomi, dan politik, agama mudah sekali dimobilisasikan sebagai instrumen untuk kepentingan-kepentingan sekelompok orang. Tradisi kristen telah menunjukan konsekuensi ketika gereja melakukan kompromi dengan negara guna mendapatkan kuasa, begitu pula agama Islam. Jika menilik umat Islam di Indonesia saat mudah sekali di mobilisasi oleh segelintir orang yang memang menggunakan agama sebagai alat untuk memperoleh kekuasaan. Konsekuensi ketika Agama melakukan kompromi dengan negara guna mendapatkan kuasa. Akhirnya agama justru menjadi alat penindasan paling kejam atas nama iman.

Di Islam dalam berbagai konteks masa kelam Islam, bisa dilihat terjadinya elitisme dalam berbagai kesultanan-kesultanan Islam yang menyisakan ketimpangan dengan kemiskinan rakyat di tengah bergelimangnya harta para sultan, bahkan sejarah dunia mencatat ketika imperium Islam berkuasa, pasukan-pasukan Islam yang melakukan perluasan kekuasaan menjadikan semua rakyat khususnya kaum perempuan yang ditawan dijadikan sebagai budak-budak belian dan pemuas syahwat para bangsawan, pembunuhan massal dan seterusnya terjadi. Inilah yang tanpa disadari menjadi sakit hati kesumat dari sebagian peradaban Barat terhadap Islam dan hampir tidak pernah diceritakan dalam sejarah Islam. Padahal tradisi Islam memiliki tradisi anti kemewahan dan berusaha melawan perbudakan dengan cinta kasih.

Dalam konteks ini memang agama sering menjadi wahana perlawanan sekaligus menjadi legitimasi status quo. Menilik pemikiran dari Syariati berbicara mengenai suatu kuasa Syari’ati mengatakan bahwa sistem pemerintahan yang sejalan dengan agama Islam harus bertedensi sosial. Dengan kata lain bisa dikatakan dalam hal ini tendensi sosial yang dimaksudkan adalah penolakan atas kemapanan atau perbudakan. Jika melihat kasus Wadas saat ini, di mana pemerintah lebih mementingkan kepentingan kapitalis daripada kepentingan masyarakat di sini seharusnya agama harus lahir sebagai suatu pendobrak akan hal itu. Dalam kasus Wadas ini perlawanan yang dilakukan, jika kita melihat salah satu maqoshidus syari’ah tentunya sangatlah wajib hukumnya seperti halnya jihad, karena dalam hal ini berhubungan dengan Hifzul Mal. Dan untuk itu Agenda-agenda perlawanan yang dilakukan oleh gerakan berbasiskan agama haruslah menebarkan suatu keadilan universal.

Pembebasan, Humanisme dan Keadilan Universal

Setiap agama sudah sepatutnya memiliki kontekstualitasnya masing-masing dalam masyarakat. Agama dalam masyarakat memiliki posisi yang suci, posisi ini pula yang menjadikan agama fana ketika diletakan dalam konteks masyarakat, karena agama adalah instrumental dari kepentingan manusia. Seperti yang kita ketahui, teologi pembebasan sendiri pada awalnya disuarakan oleh gereja-gereja Katholik yang ada di Amerika latin, hal ini tentunya memberikan kita suatu catatan penting, bahwa sejatinya agama itu mampu berjalan di aras perlawanan terhadap status quo. Geraja berubah menjadi alat penyadaran masa, tidak hanya dalam makna dogmatisme, namun dalam kesadaran kritis dan ideologis. Perlawanan terhadap status quo akan terus terjadi dengan adanya organisasi yang memang mau membela kaum-kaum mustadhafin.

Melihat semangat perlawanan yang dilakukan gereja-gereja di Amerika latin dalam sejarah mencatat bahwa dalam Islam sendiri ada tokoh-tokoh yang selalu memegang semangat tersebut, seperti Ali Syariati, Ali Ashgar Engineer dan Hasan Hanafi merumuskan pula teologi pembebasan. Menarik jika teologi pembebasan tidak dimaksudkan untuk merumuskan kembali aturan keyakinan dalam agama, atau merevisi dogmatisme agama apalagi dalam konteks aqidah dan ibadah, melainkan berusaha mencari jalan untuk menggerakan agama menjadi jalan pembebasan dalam konteks sosial yang inklusif dan rahmatan lil alamin. Untuk itu saya rasa saat ini religius humanistik sebagai bagian dari semangat teologi pembebasan perlu dipegang oleh setiap manusia untuk memerangi dualisme kelas antara kelas penguasa dan yang dikuasai, antara kelas borjuasi dan proletariat, sehingga manusia akan menemukan keesaan yang orisinil dalam rangka membangun kesadaran manusia pada misinya sebagai wakil atau khalifah Tuhan di muka bumi.

pmii walisongo

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Next Post

Berproses

Sen Feb 28 , 2022
Sederhananya, hidup adalah sejarah dan orang-orang harus menuliskan hidupnya masing-masing dengan caranya sendiri. Setiap orang pasti bisa menulis, meski tidak semua tulisan bisa atau layak dibaca, begitupun sejarah setiap manusia. Setiap orang memiliki proses yang berbeda, karena setiap orang memilih hal yang tak semuanya sama. Proses adalah pilihan, kita bisa […]